Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2020

[CERPEN] KALA ITU (4) || COKELAT PANAS

KALA ITU
Oleh: Cokelat Panas

Sosok Yayan, Raihan Ananta, laki-laki baik yang pernah kukenal. Cara bicaranya lembut, perhatian, murah senyum, dan selalu sabar ketika berhadapan denganku.

Kutatap beberapa fotoku bersama Yayan empat tahun yang lalu. Ingatanku lagi-lagi kembali ke masa di mana aku pertama kali bertemu dan mengenalnya. Ternyata sudah lama, sudah satu tahun kita tidak bertemu, Yan. Apa kabar?

Rasanya rindu sekali. Aku rindu mendengar suaramu, aku rindu melihat sikap lucumu, aku rindu ketika kamu berusaha keras mengejarku, Yan. Apa kamu tidak rindu padaku? Apa kamu sudah melupakanku? Apa kamu sudah lupa kata-katamu kala itu? Saat kamu percaya diri untuk terus mengejarku.

"Aku bilang juga apa, kita tuh pasti ketemu di kantin." Yayan datang menghampiri mejaku dan Ima.

Ima menyenggol lenganku, mencari jawaban siapakah laki-laki di hadapan kami. Tapi aku sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Yayan langsung mengambil alih kursi kosong di depanku, ia tersenyum.…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 8 || COKELAT PANAS

. . .
"Lu kenapa sekarang sama Rey kek gini sih?" Ranty melipat buku paket Matematikanya pada halaman 62, Bu Siti baru saja memberi mereka tugas rumah sebelum jam pelajarannya berakhir.
"Gini gimana?" Tanya Rin yang sebenarnya sudah tahu di mana arah pembicaraan teman sebangkunya.
"Ya.. gini kayak sekarang. Kayak orang nggak kenal, kayak orang musuhan," jelas Ranty takut-takut.
Rin tidak langsung menjawab, ditolehkan kepalanya pada meja Rey, sang empunya pun juga masih berada di sana. "Kan ini yang kalian mau, yang lu, Ajun juga anak-anak sekelas mau. Harusnya kalian bersyukur kelas enggak rame lagi."
Ranty menghela napas gusar. "Tapi kalian tuh jadi kayak orang yang nggak saling kenal tauk! Kenapa nggak biasa aja?"
Lagi-lagi Rin tidak menjawab. Sejujurnya ia pun bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan juga Rey. Ia juga tidak tahu kenapa perasaan sepi ini tiba-tiba datang ketika Rey tidak hadir di hari-harinya.

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 7 || COKELAT PANAS

.
.
.

"Woy, itu tulisan digedein ngapa kek semut nggak keliatan dari sini!" Entah sudah berapa kali Rin mengumpat ketika teriakan itu kembali menggema di dalam kelas.

Rin mengepalkan spidol yang dipegangnya, dibalikkan kepalanya menatap teman-teman sekelasnya yang sedang sibuk menyalin tulisan yang ia tulis di papan, sebagian dari mereka sibuk lari sana lari sini. Pandangannya terpusat pada seseorang yang sedari tadi meneriaki dirinya, duduk di kursi pojok paling belakang. "Siapa yang nyuruh elu duduk di pojok?! Emang dasarnya orang bodo ya kek elu gini deh!" Teriaknya menggelegar.

Rey, sosok yang duduk di pojok belakang itu berdiri di atas kursi menantang. "Orang pinter emang sombong-sombong ya? Lu sombong tapi lu nggak pinter curut!" Teriaknya tidak kalah menggelegar.

Seketika spidol yang sedari tadi digenggam Rin melayang, tapi lemparannya meleset karena targetnya menghindar. "Lain kali lu belajar lempar ya anak manis..." teriak Rey lagi sem…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 6 || COKELAT PANAS

.
.
.

Dua minggu sudah troublemaker couple berubah nama menjadi frozen couple, dengan sikap yang cuek, dingin, bahkan tidak saling sapa. Siapakah yang bisa mencairkan es kutuh utara ini? Susah payah Ajun dan Ranty berpikir keras untuk menyatukan Rey dan Rin agar tidak saling diam seperti ini.

"Gimana dong Jun, kasih solusi kek biar mereka nggak diem-dieman lagi." Ranty frustasi, bahkan lebih frustasi ketika mereka ribut. Orang kalau marah itu yang mengerikan bukan marahnya tapi diamnya.

"Ya gimana? Gua juga bingung sebenernya mereka berdua kenapa malah diem-dieman kek orang nggak kenal gitu. Padahal waktu itu gue cuman minta mereka nggak ribut lagi."

"Elu sih Jun, segala bikin perjanjian kayak gitu ke mereka. Sekarang malah kayak orang musuhan gini kan!"

"Ya maap." Ajun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Eh, gimana kalo kita labrak mereka trus kita protes sama aksi diem-dieman ini?" Ucapnya memberi solusi.

"Gila lu! Bisa dib…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 5 || COKELAT PANAS

. . .
Pagi-pagi Rin menyempatkan diri ke perpustakaan, ada beberapa buku yang harus ia cari untuk mata pelajaran hari ini. Sayangnya si pemalas Ranty belum datang, terpaksa ia pergi sendiri. Di tengah perjalanan tidak sengaja ia melihat Rey sedang asyik bermain basket sendirian.
Sejak kapan Rey suka maen basket pagi-pagi gini? Sejak dia nggak ganggu gue kayaknya.
Ia terus memperhatikan Rey di tempat persembunyinya, takut-takut jika Rey mengetahui keberadaannya.
"Argh!" Rey mengumpat, melempar bola basket ke dalam ring dengan kasar. Ekspresinya berubah frustasi, ia berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya di antara lutut yang ditekuk.
Sikap Rey membuat Rin bertanya-tanya di tempat persembunyiannya. Kenapa Rey? Ada apa dengannya? Apa ada masalah dengan keluarganya (lagi)?, batin Rin bertanya.
Jujur saja selama ia mengenal Rey, ia tahu luar dalam laki-laki itu karena walaupun mereka selalu ribut adu mulut tapi ketika keduanya tidak membuat keributan, Rey akan menuju meja Rin …

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Merasa Hidup Hampa || Insecure || COKELAT PANAS

Titik terendah manusia itu adalah ketika kita kehilangan jati diri, ketika kita kehilangan penyanggah untuk berdiri mendirikan pondasi.

Hidupnya hampa, kosong, dan gelap. Ia bisa saja berkumpul dengan teman-temannya, ketawa haha hihi, makan, jalan-jalan.. tapi orang lain bahkan di sekitarnya tidak tahu ketika orang yang tertawa bahagia ketika bersama teman-temannya akan merasa sendirian dan kesepian sesampainya di rumah. Ia menjadi sosok yang berbeda dari beberapa jam yang lalu, tapi memang ada yang seperti itu.

Melihat-lihat timeline di media sosial, melihat kebahagiaan orang lain yang tidak pernah ia rasakan kadang menjadi pemicu terbesar menjadi sosok yang insecure, minder, dan tidak percaya diri. Manusia tuh begitu, sudah tahu akan menyakiti hati dan jiwanya tapi masih saja dilakukan.

Kadang seseorang yang kehilangan jati diri, seperti hal di atas biasanya cenderung gampang menangis. Hatinya terlalu sensitif mendapati hal-hal yang sebenarnya biasa mereka dapati tapi bisa menjadi t…

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SD || Geng di Kalangan Sekolah Dasar || COKELAT PANAS

Anak sekolah itu sudah nggak asing sama yang namanya geng. Setiap kelas pasti anak-anaknya enggak semua akur dan bisa kumpul sama-sama, termasuk murid SD.

Kadang dipikiran orang-orang itu anak SD identik yang main sama siapa aja, belajar bareng, dan nggak kenal gengsi. Tapi di sini aku ada sedikit cerita jaman SD ku dulu. Inget banget jaman SD satu kelas itu tipenya ada yang pinter, pinter banget. Ada yang bodo, bodo banget. Ada yang kalem, kalem banget dan ada juga yang netral-netral aja.

Aku ada di tipe yang netral-netral aja. Inget di kelas itu punya temen sepermainan kalo enggak salah empat orang, lima sama aku. Kita itu bukan tipe anak yang pinter, kaya, atau semacemnya. Kita tipe anak yang polos, lugu, nggak pinter nggak bodo. Kalau dibilang geng pun kayaknya juga bukan, nggak sukalah sama yang tipe anak mainnya geng-gengan, terus kalo nggak ada temen satu gengnya nggak mau main.

Wkwk, iya kayak gitu. Ada satu geng yang kayaknya tuh berkuasa banget di kelas. Mereka murid-murid k…

[CERPEN] KALA ITU (3) || COKELAT PANAS

KALA ITU
Oleh: Cokelat Panas
Raihan Ananta, begitu sebutannya. Seorang siswa seangkatan dengan diriku, ikut MOS bareng dan kelasnya berada di sebelah kelasku.
Orangnya aneh, selalu mengikutiku ketika aku bertemu dengannya. Selalu menanyakan hal yang sepertinya tidak penting, aku pun tidak pernah menjawabnya tapi ia terus bertanya. Seperti kala itu...
"Iya kan? Kelas kita jejer." Aku tidak menjawab, kulangkahkan kakiku meninggalkannya sendirian di depan papan pengumuman. "Hey, ayo ke kelas bareng!" Teriaknya. Yayan berlari mengejar langkah kecilku. Sesampainya ia di sebelahku, ia tersenyum sambil memiringkan kepalanya menatapku.
Kenapa sih orang ini? Kesambet apa sampai seperti ini? Baru ini aku bertemu dengan orang aneh seperti sosoknya.
"Riris?" Panggilnya dan sontak membuatku menolehkan kepalanya namun buru-buru kupalingkan kembali wajahku.
Entah kenapa tiba-tiba pipiku memanas, aku takut jika pipiku berubah menjadi merah. Aduh Riris, kenapa sih aku in…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 4 || COKELAT PANAS

.
.
.

Seiring berjalannya waktu, semua berubah, tidak ada keributan lagi di kelas 12Bahasa2. Tidak ada keusilan yang sengaja diciptakan, tidak ada lagi si troublemaker couple yang selalu membuat warna di kelas. Semuanya hilang dalam sekejap, kelas menjadi tenang, kaku, kikuk, dan canggung di antara keduanya.

Bagaimana tidak, sosok Rey dan Rin si Tom and Jerry 12Bahasa2 tidak ada lagi, mereka mendadak menjadi murid normal yang kalem, tidak pernah berteriak, tidak pernah saling kejar-kejaran di dalam kelas, boro-boro tegur sapa bahkan menatap saja tidak.

Bukan, bukan ini yang diinginkan Rin, ia tidak ingin tatapan dingin Rey setiap hari, ia tidak sanggup jika setiap hari harus merasakan canggung ketika berpapasan dengan Rey. Rey berubah, Rey berbeda dan Rin tidak suka dengan sikap Rey yang seperti itu padanya.

Lagi-lagi pagi ini suasana canggung itu datang lagi. Rin dan Ranty baru saja keluar dari perpustakaan dan akan kembali ke kelas karena bel masuk akan berbunyi. Sayangnya Rin haru…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 3 || COKELAT PANAS

.
.
.

"Hah?! Pacaran? OGAH!" Teriak Rey dan Rin bersamaan.

"Nah, tuh kompak berarti kalian jodoh dong," ucap Ajun mengejek.

"Eh, lu pada sinting atau gimana sih?! Gue pacaran sama cewek model beginian?" Rey menatap penampilan Rin dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Penampilan urakan, bar-bar, kucel kayak curut gini? Idih, bukan tipe gue banget!" Lanjutnya dengan ekspresi sombong.

"Eh Rey, lu jangan nyolot gitu dong! Hargai kami para wanita!" Ranty tak terima, jurus emak-emaknya pun keluar, "Rin, lu kok diem aja sih?" Disenggol sohibnya yang diam seribu bahasa.

Rin diam saja, tidak seperti biasanya ia begitu. Biasanya Rin akan membela diri, merespon tiap kata yang keluar dari mulut Rey. Tapi kini entah apa yang membuatnya membisu ketika harga dirinya diinjak-injak.

"Ya udah gini aja, kalo kalian nggak mau pacaran kalian harus nurutin satu syarat dari kita--"

"Apa?" Sergap Rey tidak sabaran.

"Kalian n…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 2 || COKELAT PANAS

.
.
.

"Hey, apa lu betah natap kegantengan gue?" Tanya Rey polos.

Tak bergeming, Rin tetap diam pada posisinya sambil terus menatap Rey.

"Wei, lu mau ngelanjutin ini hah?!" Suara Rey naik satu oktaf, sontak saja membuat Rin gelagapan, buru-buru ia bangun dari aksi jatuhnya. "Enak ya tadi?" Rey pun ikut bangun dari tidur-tidurannya di lantai.

Rin yang sedang merapikan seragamnya untuk menghilangkan kegugupan pun tersedak dan langsung menatap laki-laki di depannya dengan pandangan datar.

Sontak seiisi kelas yang menyaksikan adegan tersebut saling sorak,

"Bisa aja lu Rey!"

"Modus bet!"

"Gas teross!" Dan masih banyak lagi.

Rin gelagapan, ia mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa ia mempermalukan dirinya di depan anak-anak sekelas. "Egh, E-enak aja! Lu aja yang cari kesempatan!" Teriaknya menghilangkan rasa gugup pada dirinya.

"Ye.. sok ngelak lagi lu! Jelas-jelas tadi elu yang di atas, berarti elu yan…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 1 || COKELAT PANAS

SECRET ADMIRER
Oleh: Cokelat Panas

Kesibukan selalu terjadi ketika bel masuk belum berbunyi. Seperti halnya yang terjadi di kelas 12Bahasa2, bukan hanya kesibukan tetapi keramaian dan keusilan. Tidak pernah satu hari saja kelas tersebut tenang karena lagi-lagi troublemaker couple si pembuat onar berulah kembali, seperti pagi ini misalnya.

"Rey, balikin nggak buku gue! Lu kok usil banget sih!" Oceh perempuan cantik nan manis yang terus meloncat untuk menggapai buku yang terus dipegang laki-laki yang dipanggilnya Rey.

"Wlekk.. nggak kena.. nggak kena.. Ayo dong Rin loncat lebih tinggi lagi!" Sahut Rey yang terus mengangkat buku perempuan yang dipanggilnya Rin itu tinggi-tinggi.

"Ah, kurang ajar lu!" Rin mulai ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi tapi sialnya Rey malah berlari menjauh dan itu sukses membuat Rin terjatuh. "Aduh! Ah.. sialan lu! Heh, kutu marmut balik sini lu! Gua peres lu!" Ia berlari dengan emosi yang meluap.

Rey tertawa terba…

[.] Sudah Juli Tapi Hujan Turun || Selamat Jalan Pak Sapardi

Dari kita semua pencinta karya-karya hebatmu~



PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun disela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(1991)
Sapardi Djoko Damono



Hari ini semua timeline di akun sosial media yang kubuka, semua tentangmu Pak. Kita semua, para pencinta karyamu yang luar biasa mengutarakan segala rasa cinta tentang yang ada pada dirimu.

Semua tulisanmu, semua sajak indah yang kau ciptakan memenuhi timeline yang kubuka. Tangis ini pecah, air mata yang entah kapan terakhir tidak kuteteskan, kini jatuh jua. Rasa tidak percaya berkali-kali mengetuk hatiku, ya.. dirimu yang telah tiada dengan meninggalkan ratusan karya dan jutaan keindahan di setiap sajak yang kau tuliskan.



HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang …

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SD || Jadi Anak Pemalu || COKELAT PANAS

Kenangan yang masih melekat diingatan biasanya hal-hal menggerikan yang pernah dialami di masa lalu. Ingat ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika aku yang notabennya anak baru.

Aku ceritakan sedikit, sejujurnya kisah anak sekolahku tidak semenarik banyak orang tapi mungkin tokoh aku akan menarik di cerita orang lain. Aku si anak SD kala itu bisa dibilang benar-benar anak yang pemalu, pendiam. Kalau pun dipikir kembali anak SD biasanya cenderung dengan main-main, tidak kenal gengsi, ego yang sering dilakukan orang dewasa hingga membuat insecure.

Kalau tidak salah dulu ketika duduk di bangku kelas lima. Usia yang mungkin sudah menginjak remaja, usia di mana pencapaian nilai menjadi hal penting bagi mereka, tapi waktu itu aku tidak memikirkan itu. Dulu ingat sekali sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku ditemani air mata yang menetes, hoho memalukan sekali.

Aku menangis sepanjang jalan, waktu itu sekolahku dekat rumah, 15 menit jalan kaki. Iya, dulu SD aku jalan kaki. Aku men…

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU
Oleh: Cokelat Panas

Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki.

Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku.

"Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku.

Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku.

"Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya.

"Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya.

Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyum tersebut. "Yuk ke aula,…

[CERBUNG] IBU (GURU) UNTUK ANAK-ANAK KITA Part 4 (END) || COKELAT PANAS

.
.
.

“Ilham?” gumam Nindia ketika netranya menangkap sosok Ilham di sana, berdiri membisu. Ilham?

“Papa!” Lulu segera berlari menuju tempat Ilham berdiri sekarang dan melewatinya. “Papa. Kok Papa lama?” Nindia mengerutkan keningnya, ia segera memiringkan kepalanya dan dapat melihat dengan jelas laki-laki berjas tengah memeluk Lulu, tepat di belakang Ilham.

Oh, syukurlah—eh? Nindia kembali menatap Ilham yang sudah tersenyum, laki-laki itu berjalan mendekat. “Kamu—ngapain kesini?” tanya Nindia, ia sudah berdiri, berhadapan dengan paras tampan Ilham.

“Pengen aja.” Ilham kembali tersenyum dan mendapat anggukan dari Nindia. “Kamu kira tadi aku Papa anak itu ya? Untung bukan.” Penuturan Ilham sontak membuat Nindia menahan senyum malunya. “Oh ya,” Nindia kembali fokus menatapnya, “aku suka kamu Nin.” Sontak bola mata Nindia membulat lebar, “kamu mau nggak jadi madrasah pertama untuk anak-anak kita nanti?”

“Hah?” sergap Nindia cepat. Ditatap wajah itu dalam, mencoba mencari kebohongan di san…

[CERBUNG] IBU (GURU) UNTUK ANAK-ANAK KITA Part 3 || COKELAT PANAS

.
.
.

“Eh, Lulu? Kok belum pulang?” Nindia berjalan mendekati anak kecil berseragam TK tengah duduk sendirian di ruang tunggu jemputan, dielus puncak kepalanya lembut.

Lulu mendongak dan tersenyum. “Papa belom jemput, Bu Guru,” jawabnya polos.

“Bu Guru temenin ya,” tutur Nindia lembut dan ikut duduk di samping gadis kecil yang tengah memegang gulungan kertas di tangannya. “Itu apa Lulu?” tanyanya melirik kertas tersebut.

Lulu kembali menatap Nindia dan segera membuka gulungan kertas tersebut, terlihat sebuah gambar dengan pewarna crayon khas anak TK. Gambar seorang perempuan. “Ini tugas dari Bu Tika tadi, Bu Guru. Tadi disuruh menggambar orang yang Lulu sayang, Lulu gambar Mama Lulu soalnya Lulu sayang Mama tapi... Lulu nggak punya Mama.” Dengan jelas Nindia menatap manik mata gadis kecil itu yang kini tengah mendongak. Rasa sesak tiba-tiba menyelimuti hatinya, air mata pun sudah menggenang di pelupuk matanya dan menetes tanpa diberi aba-aba. “Bu Guru kenapa nangis?” pertanyaan Lulu …

[CERBUNG] IBU (GURU) UNTUK ANAK-ANAK KITA Part 2 || COKELAT PANAS

.
.
.

Nindia hanya mengangguk, pandangannya beralih pada laki-laki berjaket hitam dengan menampakkan kaus putih yang tengah menatapnya. Ia menaikkan satu alisnya. “Apa kabar Nin?” tanya laki-laki itu.

Perlahan Nindia ingat siapa orang itu. “Baik Ham.” senyumnya menyambut senyuman laki-laki itu. Namanya Ilham, mereka satu angkatan, hanya berbeda fakultas. Sekitar satu tahun lalu mereka berkenalan di salah satu kesempatan ketika kampus tengah mengadakan sebuah acara. Nindia saja sampai lupa acara apa karena semenjak itu mereka tak pernah bertemu lagi, mungkin hanya berpapasan itu pun ia tidak pernah sadar.

Wirda ikut melirik laki-laki yang duduk di depannya, ia bahkan tak tahu kalau ada orang. “Eh? Si Ilham!” sergapnya, sontak membuat Nindia mengerutkan kening bingung.

Ilham mengalihkan pandangannya. “Hei Da, apa kabar?” tanyanya basa-basi pada Wirda.

Wirda tak menjawab, ia hanya menaikturunkan kedua alisnya sambil melirik Nindia yang kini sudah sibuk membuka lembar demi lembar buku ya…

[CERBUNG] IBU (GURU) UNTUK ANAK-ANAK KITA Part 1 || COKELAT PANAS

IBU (GURU) UNTUK ANAK-ANAK KITA Oleh: Cokelat Panas
. Cerita ini pernah diikutsetakan antalogi cerpen. .
Ruang kelas yang berisi lebih dari sepuluh orang itu tengah fokus mendengarkan penjelasan dosen berkepala plontos dengan saksama, namun tak banyak juga dari mereka yang sibuk sendiri di balik meja seperti asyik bermain gadget, menatap layar laptop yang menyala, mengobrol atau pun tidur. Hanya anak-anak rajin yang duduk paling depan yang serius mendengarkan bahkan sampai mencatat sesuatu yang sekiranya penting.
“Baiklah, untuk tugas yang sudah saya jelaskan tadi harap dikumpulkan minggu depan! Selamat siang.” dosen berkepala plontos dengan setelan kemeja rapi itu keluar ruangan setelah membereskan buku-bukunya.
“Siang Pak!” seru para murid yang masih setia duduk di balik meja mereka. Satu persatu dari mereka mulai memasukkan alat tulisnya ke dalam tas dan langsung beranjak meninggalkan kelas, sama seperti perempuan berpakaian tertutup dengan rok dan baju panjangnya, juga tidak ketingg…

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Kenaikan kelas 3 SD || Ketika Jadi Anak Pindahan || COKELAT PANAS

Pernah baca cerita yang tokoh utama anak baru di sekolah atau tokoh utama jadi murid kelas yang saat itu kelasnya kedatangan anak baru? Pasti complicated banget! Biasanya bakal fokus sama kisah dua anak laki-laki dan perempuan yang tiba-tiba saling suka, biasanya bermula dari benci dulu, atau enggak segerombolan geng cewek yang nggak suka sama anak baru.

Seru sih, ngerasa nge-flashback ke jaman sekolah dulu tapi ternyata kisah cerita yang di novel-novel beda jauh dengan kehidupan nyata, nggak semuanya seru dan asyik. Kalian pernah nggak sih ada di posisi itu? Jadi anak pindahan atau jadi tuan rumah yang kedatangan murid baru di kelas?

Kalau aku dulu ada di point pertama nih, jadi tokoh utama anak baru di sekolah. Dulu, waktu kenaikan kelas 3 SD aku sekeluarga pindah rumah, pindah Kecamatan, Kabupaten, bahkan Kota. Kalau dibilang jauh yaaa perjalanan sekitar satu malam lebih beberapa jam.

Waktu itu aku pergi meninggalkan kota kelahiranku. Dengan usia yang belum mengerti apa itu pindah …

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Ketika Penulis Curhat || COKELAT PANAS

Hai, selamat datang pada podcast versi paragraf milikku. Jika Spotify punya podcast audio yang isinya curhatan, cerita, atau sekedar ingin bicara pada diri sendiri dan jika Youtube punya podcast video yang sedang booming saat ini, maka aku punya podcast versiku sendiri.

Pernah dengar podcast paragraf? Tentu saja tidak, karena arti dari podcast sendiri adalah serangkaian berkas media digital baik audio maupun video yang bisa di dengar secara online atau diunduh untuk didengarkan offline. Tapi boleh kan ya aku mengartikan podcast versiku.

Beberapa writer mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaannya, bukan bukan, tapi bahkan semua orang. Ada yang ekspresif, mulai dari cara mereka mengungkapkan lewat suara, gerak tubuh, sampai mimik wajah secara percaya diri pada orang-orang di sekitar atau yang tidak begitu mereka kenal. Ada juga beberapa orang mengungkapkannya dengan lagu, dengan suara yang mereka rekam untuk dikonsumsi sendiri atau di share kepada banyak orang dijadikan pe…

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 4 (END) || COKELAT PANAS

.
.
.

“Be—Bram!” aku mengeram. Shit! Bodohnya aku malah melakukan hal itu sontak saja ia langsung menjatuhkan tubuhku ke atas sofa dengan ia di atas tubuhku. Wajahnya mendekat ke arahku dan dengan sigap kututup mulutku dengan tangan rapat.

Ia menghentikan aksinya, “apa?” tanyanya cengo.

Ku jawab dengan kedua tangan yang masih menutupi mulutku hingga suara yang kuhasilkan tidak jelas.

“Dibuka mulutnya, aku enggak denger sayang.” Aku terenyuh ketika ia sudah menggunakan panggilan aku-kamu.

Aku pun melepas tanganku dari mulut. “Kita belom halal, kalo mau ‘anu’ halalin aku dulu!” ucapku akhirnya.

Abram tertegun, aku yakin ia tidak akan bisa menjawabnya namun dugaanku meleset tanpa aba-aba ia langsung menyosor mencium bibirku sekilas. “Aku makin cinta sama kamu Mel,” ucapnya sambil memeluk tubuhku yang tidak berdaya di bawahnya.

Geli, ngeri, itu yang kurasakan sekarang. Hampir saja aku dimangsa olehnya dan untung saja nafsuku kala itu tidak menggebu-gebu. Tapi hal yang paling horor dari it…

[CERBUNG] SOAL RINDU part 3 || COKELAT PANAS

.
.
.

“Sakit enggak?”

“Engga—agh di—dikit.. sakit Mel.” Aku tertawa melihat ekspresi di wajah Abram. Laki-laki ini, gayanya sok cowok, sok gentle tapi baru dipijat pelan saja kesakitan. “Kok malah ketawa sih?!”

“Lucu ih kamu,” jawabku polos.

“Kalo kamu lucunya nggak bikin ketawa Mel.”

“Terus apa?” kutatap wajah Abram, laki-laki berperawakan tinggi dengan warna kulit coklat sawo matang tapi manis itu.

Abram tersenyum, “bikin sayang.”

“Ihh.. ngeselin! Geli apaan deh Bram!” ku pukul pundaknya keras-keras sampai si empunya mengaduh kesakitan dengan tawanya.

Di tengah canda kami tiba-tiba ponsel Abram berdering. “Notif. Notif,” ucapku menyudahi tawa.

“Apaan sih cemburu aja.” Dielusnya kepalaku lembut. Abram segera mengambil ponselnya dan dering pun mati. Ia pun menatapku kembali.

“Telepon kan? Kok enggak diangkat?”

“Bukan apa-apa.. dimatiin kok sama sananya—” ponselnya kembali berdering, sepertinya memang telepon.

“Angkat aja kalik, enggak papa.” Aku pun mulai menyibukkan diri membereskan …

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 2 || COKELAT PANAS

..
.

Kamu di mana?

Send!” tak selang beberapa detik ponselku bergetar tanda Whatsapp masuk, buru-buru lihat notif  tersebut. Abram, batinku.

Lagi maen voli, jawabnya.

Baru jari tanganku hendak menggelitik layar ponsel untuk membalas pesannya, Abram kembali mengirim pesan.

Tangan gw cidera, bengkak gede masa

Aku melongo membaca pesan tersebut, buru-buru ku balas,
Kok bisa gitu? Sakit gak? Parah gak? Diobatin entar

Satu menit kemudian ia kembali membalas,
Dikit. Tapi bengkak biru gitu. Ntar elu yang ngobatin ya

Aku jadi semakin khawatir, tanpa membalas pesan darinya aku langsung bergegas ke tempat di mana Abram berada. Aku bukan siapa-siapanya tapi aku peduli dengannya, toh ia sendiri yang mengatakan kondisinya saat ini berarti tidak ada salahnya aku cemas dan khawatir sampai menemuinya di tempat olahraganya kan?

Sesampainya di tempat olahraga Abram, aku celingak-celinguk mencari keberadaannya. “Eh Bram, cewek lu kan itu?” terdengar suara laki-laki dan pandanganku tertuju pada gerombolan l…

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU
Oleh: Cokelat Panas

.
-Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu-
.
Hai, aku Karamel dan ini kisahku..

“Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp
Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.”

Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja.

Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini?

Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pedih yang kadang aku tertawakan, lucunya.

[CERPEN] KALA ITU 1 || COKELAT PANAS

KALA ITU
Oleh: Cokelat Panas

Namaku Riris, disini aku akan menceritakan kisahku yang sedikit ruyam. Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah hidupku dimana aku mempunyai teman, sahabat, bahkan best friend for ever dengan seorang laki-laki. Seumur-umur aku tidak pernah bisa dekat dengan laki-laki karena aku hanyalah perempuan biasa yang bergaul dengan perempuan saja, bisa dibilang aku parno dengan laki-laki entah kenapa.

Namun, tepat tiga tahun lalu hidupku sedikit berubah, ada warna ketika dia datang. Namanya Iyan tapi aku lebih sering memanggilkan Yayan. Aku mengenalnya ketika kami duduk di bangku satu SMA, ketika Masa Orientasi Siswa lebih tepatnya.

Kala itu semua siswa baru berbaris di lapangan dengan beragam atribut aneh, namun saat itu aku kehilangan ikat pinggang yang terbuat dari permen yang disusun melingkar. Aku panik, bagaimana bisa hilang? Seingatku ketika berangkat sekolah tadi aku membawanya.

Aku panik bukan kepalang ketika kakak senior berjalan hampir mendekat ke posisi…