Skip to main content

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

www.cokelatpanas.com
SOAL RINDU
Oleh: Cokelat Panas

.
-Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu-
.

Hai, aku Karamel dan ini kisahku..

“Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp
Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.”

Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja.

Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini?

Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pedih yang kadang aku tertawakan, lucunya.

Krietttt... Dukkkk...

“Astagfirullah.”

 “Allahu Akbar.”

Seisi bus terbangun dari tidurnya ketika bus yang sedang kami tumpangi mengerem mendadak hingga membuat tubuh dingin kami yang sedang lemah tak berdaya di bawah selimut terdorong ke depan. Kami saling tengok, kanan kiri juga depan apa yang terjadi, entah apa yang dialami sopir bus hingga mengerem mendadak. Perlahan keadaan kembali senyap, beberapa dari kami kembali melanjutkan tidurnya.

Kutatap kaca bus yang berembun karena dingin, jalanan gelap hanya sedikit lampu di pinggir jalan, belum lagi sepi hanya ada satu dua roda enam yang beriringan dengan bus yang kutumpangi. Kurogoh benda pipih yang berada ditas selempangku. Pukul dua dini hari. Aku merogoh tas ranselku di sebelah untuk mengambil charger handphone-ku, ketemu.

Kakiku mulai turun dari kursi bus, memakai sepatu selop dan berjalan menuju kursi sopir. “Pak, saya ijin nge-cash hp ya,” ucapku setelah duduk di samping sopir, tepat di tengah-tengah lorong bus.

Mangga Neng,” jawab sopir bus menoleh ke arahku sekilas.

Tanpa menunggu lama aku langsung mengisi daya handphone-ku dengan charger yang kubawa. “Lagunya boleh saya ganti Pak?” sekalian aku meminta ijin untuk mengganti musik yang disetel Pak Sopir sejak sore. Namun beliau tidak langsung menjawab, kepalanya ditolehkan ke arahku sambil memandangku aneh, sedikit takut sebenarnya. Apa si Bapak tersinggung? “Egh—”

“Boleh atuh..” jawaban si Bapak sukses membuatku melongo, kucondongkan kepalaku menatap ekspresi Pak Sopir yang sedang tersenyum, aku pun ikut tersenyum.

Kupasang kabel penyambung musik pada handphone-ku, ku setel lagu kesukaanku entah sejak kapan, Sheila On 7-Bila Kau Tak Di sampingku. Lagu mulai mengalun merdu di dalam bus.

“Selera lagunya oke juga Neng.” Suara Pak Sopir membuatku membuka mata, kulihat si Bapak tersenyum mangut-mangut menikmati alunan musik, aku pun tersenyum.

Aku jadi ingat sesuatu, beberapa bulan yang lalu ketika aku masih bersamanya. Dia yang membuatku menyukai semua lagu Sheila On 7. Ingat sekali lagu yang pernah ia persembahkan untukku.

“Mel, sini deh coba dengerin lagu ini.” Tangannya kala itu melambai menyuruhku duduk di sampingnya.

“Apaan?” jawabku jutek namun langkah lakiku berjalan menujunya.

“Ya dengerin sini makanya, cemberut muluk gua gigit entar pipi lu.” Kata-katanya sukses membuatku tersenyum geli, kutoyor pipinya pelan dengan kepalan tangan. Ia memasangkan earphone ke telingaku dan musik mulai mengalun.

“Datanglah, sayang dan biarkanku berbaring
Di pelukanmu walaupun tuk sebentar
Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua.
Bila ku lelah tetaplah di sini
Jangan tinggalkan aku sendiri
Bila ku marah biarkan kubersandar
Jangan kau pergi untuk menghindar.”

Aku tersenyum mendengar lirik demi lirik lagu tersebut, membayangkan jika kata-kata itu keluar dari bibir laki-laki di sampingku yang mulai merangkul pinggangku, erat, erat, dan semakin erat. “Ish, sakit Bram! Nggak usah pegang-pegang juga kalik!” teriakku sambil melepas pelukan tangannya.

Abram, laki-laki di sampingku cengengesan dan kembali memeluk pinggangku, satu tangannya mencubit pipiku hingga bibirku maju ke depan beberapa senti. Menyebalkan memang tapi aku suka, sangat suka bahkan aku selalu merindukan tingkahnya yang bermanja-manja padaku untuk mencari perhatian.

Lagu itu, teringat jelas sampai luar kepalaku. Liriknya seperti dirimu yang tengah berbicara padaku Bram tapi kini semua itu omong kosong, bulshit Abram.

“Inginku berdiri di sebelahmu menggenggam erat jari-jarimu
Mendengarkan lagu Sheila on 7 seperti waktu itu saat kau di sisiku.”

“Istirahat dulu Neng.” Lamunanku buyar ketika Pak Sopir menyalakan lampu bus dan beberapa penumpang lainnya mulai bergegas turun meninggalkan kursinya, aku pun segera melakukan hal yang sama.

Sampai rest area 960, Ajibarang. Aku segera menuju kamar mandi dan setelahnya mencari makan. Kutatap ponselku, tidak ada Whatsapp masuk dari siapa pun, terakhir hanya dari Ibu. Kuhirup udara pagi perlahan dan kubuang lewat mulut, sejuk. Aku hampir sampai, sampai rumah untuk mencari ketenangan dan melupakan yang lalu.

Setengah jam kemudian aku dan penumpang busku kembali ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan.

.
.
.

Tbc

Comments

Popular posts from this blog

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 4 || COKELAT PANAS

.
.
.

Seiring berjalannya waktu, semua berubah, tidak ada keributan lagi di kelas 12Bahasa2. Tidak ada keusilan yang sengaja diciptakan, tidak ada lagi si troublemaker couple yang selalu membuat warna di kelas. Semuanya hilang dalam sekejap, kelas menjadi tenang, kaku, kikuk, dan canggung di antara keduanya.

Bagaimana tidak, sosok Rey dan Rin si Tom and Jerry 12Bahasa2 tidak ada lagi, mereka mendadak menjadi murid normal yang kalem, tidak pernah berteriak, tidak pernah saling kejar-kejaran di dalam kelas, boro-boro tegur sapa bahkan menatap saja tidak.

Bukan, bukan ini yang diinginkan Rin, ia tidak ingin tatapan dingin Rey setiap hari, ia tidak sanggup jika setiap hari harus merasakan canggung ketika berpapasan dengan Rey. Rey berubah, Rey berbeda dan Rin tidak suka dengan sikap Rey yang seperti itu padanya.

Lagi-lagi pagi ini suasana canggung itu datang lagi. Rin dan Ranty baru saja keluar dari perpustakaan dan akan kembali ke kelas karena bel masuk akan berbunyi. Sayangnya Rin haru…

[CERPEN] LUKA || COKELAT PANAS

LUKA
Oleh: Cokelat Panas

Tentang hati, selalu ada cara ia mempermainkan pemiliknya. Tentang hati, banyak cara ia memberi luka dan luka, walau begitu aku selalu menghargai apa yang hati lakukan, apa yang hati rasakan walaupun harus kembali membuat luka dan menambalnya, begitu seterusnya.

Aku kembali termenung ketika netra ini menangkap sosok laki-laki tampan berjalan mendekatiku, ia tersenyum, senyum yang entah sudah berapa ribu kali kulihat, senyum yang selalu membuat bibir dan hatiku tersenyum amat lebar. "Alvin." Suaraku lirih, ia kembali tersenyum dan melebarkan langkahnya supaya segera sampai pada posisiku berdiri.

"Lama nggak?" Tanyanya sesampainya di depanku.

Aku tak segera menjawab, mataku memicing dengan senyum miring. "Kalo lama berarti traktir ice cream dong ya?!" Ucapku bersemangat.

"Enak aja! Kemaren udah Din, jangan suka malak orang deh!" Jawab Alvin sambil mengacak rambut sebahuku sampai berantakan.

Aku hanya meringis sambil berus…