[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS Skip to main content

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2
SOAL RINDU
Oleh: Cokelat Panas

.
-Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu-
.

Hai, aku Karamel dan ini kisahku..

“Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp
Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.”

Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja.

Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini?

Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pedih yang kadang aku tertawakan, lucunya.

Krietttt... Dukkkk...

“Astagfirullah.”

 “Allahu Akbar.”

Seisi bus terbangun dari tidurnya ketika bus yang sedang kami tumpangi mengerem mendadak hingga membuat tubuh dingin kami yang sedang lemah tak berdaya di bawah selimut terdorong ke depan. Kami saling tengok, kanan kiri juga depan apa yang terjadi, entah apa yang dialami sopir bus hingga mengerem mendadak. Perlahan keadaan kembali senyap, beberapa dari kami kembali melanjutkan tidurnya.

Kutatap kaca bus yang berembun karena dingin, jalanan gelap hanya sedikit lampu di pinggir jalan, belum lagi sepi hanya ada satu dua roda enam yang beriringan dengan bus yang kutumpangi. Kurogoh benda pipih yang berada ditas selempangku. Pukul dua dini hari. Aku merogoh tas ranselku di sebelah untuk mengambil charger handphone-ku, ketemu.

Kakiku mulai turun dari kursi bus, memakai sepatu selop dan berjalan menuju kursi sopir. “Pak, saya ijin nge-cash hp ya,” ucapku setelah duduk di samping sopir, tepat di tengah-tengah lorong bus.

Mangga Neng,” jawab sopir bus menoleh ke arahku sekilas.

Tanpa menunggu lama aku langsung mengisi daya handphone-ku dengan charger yang kubawa. “Lagunya boleh saya ganti Pak?” sekalian aku meminta ijin untuk mengganti musik yang disetel Pak Sopir sejak sore. Namun beliau tidak langsung menjawab, kepalanya ditolehkan ke arahku sambil memandangku aneh, sedikit takut sebenarnya. Apa si Bapak tersinggung? “Egh—”

“Boleh atuh..” jawaban si Bapak sukses membuatku melongo, kucondongkan kepalaku menatap ekspresi Pak Sopir yang sedang tersenyum, aku pun ikut tersenyum.

Kupasang kabel penyambung musik pada handphone-ku, ku setel lagu kesukaanku entah sejak kapan, Sheila On 7-Bila Kau Tak Di sampingku. Lagu mulai mengalun merdu di dalam bus.

“Selera lagunya oke juga Neng.” Suara Pak Sopir membuatku membuka mata, kulihat si Bapak tersenyum mangut-mangut menikmati alunan musik, aku pun tersenyum.

Aku jadi ingat sesuatu, beberapa bulan yang lalu ketika aku masih bersamanya. Dia yang membuatku menyukai semua lagu Sheila On 7. Ingat sekali lagu yang pernah ia persembahkan untukku.

“Mel, sini deh coba dengerin lagu ini.” Tangannya kala itu melambai menyuruhku duduk di sampingnya.

“Apaan?” jawabku jutek namun langkah lakiku berjalan menujunya.

“Ya dengerin sini makanya, cemberut muluk gua gigit entar pipi lu.” Kata-katanya sukses membuatku tersenyum geli, kutoyor pipinya pelan dengan kepalan tangan. Ia memasangkan earphone ke telingaku dan musik mulai mengalun.

“Datanglah, sayang dan biarkanku berbaring
Di pelukanmu walaupun tuk sebentar
Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua.
Bila ku lelah tetaplah di sini
Jangan tinggalkan aku sendiri
Bila ku marah biarkan kubersandar
Jangan kau pergi untuk menghindar.”

Aku tersenyum mendengar lirik demi lirik lagu tersebut, membayangkan jika kata-kata itu keluar dari bibir laki-laki di sampingku yang mulai merangkul pinggangku, erat, erat, dan semakin erat. “Ish, sakit Bram! Nggak usah pegang-pegang juga kalik!” teriakku sambil melepas pelukan tangannya.

Abram, laki-laki di sampingku cengengesan dan kembali memeluk pinggangku, satu tangannya mencubit pipiku hingga bibirku maju ke depan beberapa senti. Menyebalkan memang tapi aku suka, sangat suka bahkan aku selalu merindukan tingkahnya yang bermanja-manja padaku untuk mencari perhatian.

Lagu itu, teringat jelas sampai luar kepalaku. Liriknya seperti dirimu yang tengah berbicara padaku Bram tapi kini semua itu omong kosong, bulshit Abram.

“Inginku berdiri di sebelahmu menggenggam erat jari-jarimu
Mendengarkan lagu Sheila on 7 seperti waktu itu saat kau di sisiku.”

“Istirahat dulu Neng.” Lamunanku buyar ketika Pak Sopir menyalakan lampu bus dan beberapa penumpang lainnya mulai bergegas turun meninggalkan kursinya, aku pun segera melakukan hal yang sama.

Sampai rest area 960, Ajibarang. Aku segera menuju kamar mandi dan setelahnya mencari makan. Kutatap ponselku, tidak ada Whatsapp masuk dari siapa pun, terakhir hanya dari Ibu. Kuhirup udara pagi perlahan dan kubuang lewat mulut, sejuk. Aku hampir sampai, sampai rumah untuk mencari ketenangan dan melupakan yang lalu.

Setengah jam kemudian aku dan penumpang busku kembali ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan.

.
.
.

Tbc

Comments

Popular posts from this blog

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu