[PODCAST] 1 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Ketika Penulis Curhat || COKELAT PANAS Skip to main content

[PODCAST] 1 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Ketika Penulis Curhat || COKELAT PANAS

Hai, selamat datang pada podcast versi paragraf milikku. Jika Spotify punya podcast audio yang isinya curhatan, cerita, atau sekedar ingin bicara pada diri sendiri dan jika Youtube punya podcast video yang sedang booming saat ini, maka aku punya podcast versiku sendiri.

Pernah dengar podcast paragraf? Tentu saja tidak, karena arti dari podcast sendiri adalah serangkaian berkas media digital baik audio maupun video yang bisa di dengar secara online atau diunduh untuk didengarkan offline. Tapi boleh kan ya aku mengartikan podcast versiku.

Beberapa writer mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaannya, bukan bukan, tapi bahkan semua orang. Ada yang ekspresif, mulai dari cara mereka mengungkapkan lewat suara, gerak tubuh, sampai mimik wajah secara percaya diri pada orang-orang di sekitar atau yang tidak begitu mereka kenal. Ada juga beberapa orang mengungkapkannya dengan lagu, dengan suara yang mereka rekam untuk dikonsumsi sendiri atau di share kepada banyak orang dijadikan pengalaman bagi yang mendengarkan.

Dan yang terakhir, biasanya ini terjadi pada beberapa orang yang senang membaca dan menulis, mungkin tidak semua tapi ada. Mereka adalah orang-orang yang diam jika diminta untuk mengungkapkan pendapat, ide, isi hati, atau perasaan lainnya. Mereka tidak sepercaya diri dua tipe di atas tadi dan yang dapat mereka lakukan adalah dengan cara menulis.

Kebanyakan mereka yang senang membaca atau menulis memiliki aura yang berbeda, sering menyendiri, mempunyai ruang dan dunianya sendiri. Lebih suka berada di tempat-tempat yang sepi, sunyi dan tenang, seperti beberapa dari mereka tidak suka acara pensi dengan musik keras, pertunjukan heboh bahkan kadang ada yang merasa pusing jika berada pada acara pernikahan orang, pesta ulang tahun, perpisahan sekolah dan acara banyak orang dengan musik yang heboh.

Mereka akan mengungkapkan semua perasaan yang dimiliki lewat tulisan, apa saja, bagaimana saja. Justru tipe yang terakhir ini biasanya lebih banyak ungkapan yang mereka tulis dari tipe-tipe yang berani mengungkapkannya langsung.

Tulisan yang mereka tulis pun berbagai macam bentuknya, ada yang sengaja dibuat cerita, sosok A dan B yang sebenarnya itu adalah mereka dengan orang lain, atau bisa dinikmati melalui puisi, ditulis setiap baitnya dengan perasaan yang saat itu mereka rasakan. Bisa juga ditulis seperti buku diary, ketika seseorang membacanya ia akan merasakan seperti sedang membaca diary orang lain.

Jika kalian salah satu dari tipe terakhir, maka jangan pesimis tidak dapat menyalurkan perasaan kalian pada orang lain. Setiap orang, kurang lebihnya selalu ada porsinya masing-masing pada diri. Jangan berkecil hati dan selalu berpikir positif untuk terus berkarya. Jika kalian gagal, gunakan perantara tulisan untuk mendapatkan kepuasan dihati, agar diri sendiri juga mendengarkan curhatan hati. "Tubuh, kamu juga harus mengerti hati." Dan coba lagi, bangkit lagi.

Untuk paragraf terakhir aku ingin mengucapkan banyak terima kasih sudah mengijinkan aku untuk mewujudkan podcast versiku, terima kasih kalian sudah membaca sedikit curhatanku yang mungkin juga bisa mewakili perasaan kalian. Dan lagi, jika kalian menemukan podcast ku, boleh komen mau menikmati podcast paragrafku seperti apalagi atau kalau mau curhat sangat dipersilahkan~

.

Nikmati podcast paragraf setiap Sabtu dan Minggu! Selamat sore dan selamat beraktivitas~

COKELAT PANAS
04:41pm

  [PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf part 2|| Kenaikan kelas 3 SD || Ketika Jadi Anak Pindahan || COKELAT PANAS

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu