[PODCAST] 3 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SD || Jadi Anak Pemalu || COKELAT PANAS Skip to main content

[PODCAST] 3 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SD || Jadi Anak Pemalu || COKELAT PANAS

Kenangan yang masih melekat diingatan biasanya hal-hal menggerikan yang pernah dialami di masa lalu. Ingat ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika aku yang notabennya anak baru.

Aku ceritakan sedikit, sejujurnya kisah anak sekolahku tidak semenarik banyak orang tapi mungkin tokoh aku akan menarik di cerita orang lain. Aku si anak SD kala itu bisa dibilang benar-benar anak yang pemalu, pendiam. Kalau pun dipikir kembali anak SD biasanya cenderung dengan main-main, tidak kenal gengsi, ego yang sering dilakukan orang dewasa hingga membuat insecure.

Kalau tidak salah dulu ketika duduk di bangku kelas lima. Usia yang mungkin sudah menginjak remaja, usia di mana pencapaian nilai menjadi hal penting bagi mereka, tapi waktu itu aku tidak memikirkan itu. Dulu ingat sekali sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku ditemani air mata yang menetes, hoho memalukan sekali.

Aku menangis sepanjang jalan, waktu itu sekolahku dekat rumah, 15 menit jalan kaki. Iya, dulu SD aku jalan kaki. Aku menangis karena ingat kejadian di sekolah hari itu, ketika aku dibentak, diteriaki, dan dimarahi oleh teman sekelas.

Dia laki-laki, aku lupa caranya membentakku seperti apa tapi aku ingat kenapa ia membentak anak polos sepertiku. Waktu itu aku tidak sengaja menjatuhkan tas ranselnya ke lantai, benar-benar deh aku melakukan itu tanpa sengaja, ya sewajarnya aku menjatuhkan pena yang sedang kupakai untuk menulis, sewajarnya aku menjatuhkan barang orang lain di depan pemiliknya. Mungkin kalau aku melakukan hal itu ketika dewasa sepertinya yang punya akan tertawa, begitupun denganku.

Tapi saat itu berbeda, anak kelas lima SD yang arogan itu memarahiku. Aku masih ingat wajahnya juga namanya, bagaimana mungkin aku bisa lupa. Mungkin ia laki-laki asing pertama yang membuatku menangis, wkwk memalukan. Sepanjang perjalanan pulang aku menangis sambil sesekali berbicara sendiri "aku tadi nggak sengaja." "Sungguhan nggak sengaja." Kira-kira seperti itu.

Dan percaya tidak, sepuluh tahun sudah berlalu dan tragedi itu masih melekat jelas diingatan. Dan hal yang paling membuatku heran adalah beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya, di salah satu minimarket. Aku yakin betul itu ia, dirinya sudah dewasa sekali kulihat. Kulitnya yang masih gelap sawo matang dengan wajah panjangnya yang tegas tapi saat bertemu dirinya lebih gemuk dari dulu ketika SD, rambut hitamnya sudah jabrik ke atas.

Kita saling berhadapan, aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku bisa berhadapan dengannya hehe. Cuman sebentar, dan jujur aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya. Bukan, bukan aku salah tingkah atau apa, justru perasaan tak sukalah yang muncul. Ingatan sepuluh tahun itu datang, dan ya rasa benciku pun kembali datang. Dasar ya perempuan, kalau sudah disakiti laki-laki ia tidak akan melupakan.

Tapi semua itu sudah berlalu. Aku harap aku tidak akan bertemu dengan sosoknya lagi karena bisa-bisa kutendang tubuhnya tersungkur ke belakang wkwk jahat sekali. Nggak, nggak.. bercanda.

.

Nikmati podcast paragraf setiap Sabtu dan Minggu. Selamat siang dan selamat beraktivitas.

Salam dari anak perempuan yang pernah kau tindas, xoxo
COKELAT PANAS
01:25pm

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu