[PODCAST] 4 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SD || Geng di Kalangan Sekolah Dasar || COKELAT PANAS Skip to main content

[PODCAST] 4 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SD || Geng di Kalangan Sekolah Dasar || COKELAT PANAS

Anak sekolah itu sudah nggak asing sama yang namanya geng. Setiap kelas pasti anak-anaknya enggak semua akur dan bisa kumpul sama-sama, termasuk murid SD.

Kadang dipikiran orang-orang itu anak SD identik yang main sama siapa aja, belajar bareng, dan nggak kenal gengsi. Tapi di sini aku ada sedikit cerita jaman SD ku dulu. Inget banget jaman SD satu kelas itu tipenya ada yang pinter, pinter banget. Ada yang bodo, bodo banget. Ada yang kalem, kalem banget dan ada juga yang netral-netral aja.

Aku ada di tipe yang netral-netral aja. Inget di kelas itu punya temen sepermainan kalo enggak salah empat orang, lima sama aku. Kita itu bukan tipe anak yang pinter, kaya, atau semacemnya. Kita tipe anak yang polos, lugu, nggak pinter nggak bodo. Kalau dibilang geng pun kayaknya juga bukan, nggak sukalah sama yang tipe anak mainnya geng-gengan, terus kalo nggak ada temen satu gengnya nggak mau main.

Wkwk, iya kayak gitu. Ada satu geng yang kayaknya tuh berkuasa banget di kelas. Mereka murid-murid kesayangan guru, maybe karena pinter. Dan aku pun nggak bisa gabung sama mereka, nggak ngerasa cocok sama mereka. Kayak, apalah aku remukan rengginang.

Aku SD itu ngerasain di dua sekolah, pertama pas kelas 1-2 SD, kedua kelas 3-6 SD. Nggak inget-inget banget sebenernya pas kelas 1-2 itu karena masih terlalu kecil kan ya. Tapi aku ngerasa aja, situasi dan kondisinya tuh beda banget.

Aku sih anak pendiam, pemalu, dan susah bergaul itu ketika kelas 3-6 SD. Entah mungkin karena ruang lingkupnya yang berbeda, pergaulan, budaya, dan bahasa yang berbeda sampai buat aku nggak bisa beradaptasi dengan baik.

Kadang kalau sekarang inget rasanya tuh aku minder banget. Mereka pinter-pinter, dari golongan keluarga yang mampu, dan mereka cantik sih pastinya. Inget banget aku tuh anaknya kucel banget, dekil, kumel dari jaman SD-SMP-SMK. Nggak ngerti style, make up, trend, update.

Bahkan keinget pas awal-awal ada aplikasi WhatsApp itu kalo nggak salah jaman SMK, aku pernah kepikiran gini "nggak mau download aplikasi WhatsAap ah, buat apa juga?" Wkwkw ngakak banget, nggak ngerti lagi.

Tapi bertambahnya umur semakin ngerasa kalo trend berubah tapi bukan berarti kita harus mengikuti trend sana-sini, cuman kita harus menyesuaikan itu semua pada diri kita. Kadang sekarang juga suka kepikiran; "kok aku dulu kecilnya kudet banget ya" "kok dulu aku polos banget ya." Dan itu yang kadang bikin aku ngerasa minder sama temen-temen yang lebih dari diri aku.

Tapi enggak apa juga, kita masing-masing punya cara tumbuh dan berkembang yang berbeda. Kalau orang lain bisa lebih pesat dan meninggalkan kita jauh di belakang, ya kita harus memperbaiki diri kita dengan baik. Bercermin, itu penting banget. Apalagi kalau kita justru ngerasa lebih baik dari orang lain, kita nggak boleh besar kepala dan ngerasa diri kita lebih baik.

.

Nikmati podcast paragraf setiap Sabtu dan Minggu. Selamat sore, hati-hati di jalan pulang.

COKELAT PANAS
03:19pm

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu