[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 2 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 2 || COKELAT PANAS


SECRET ADMIRER Part3
.
.
.

"Hey, apa lu betah natap kegantengan gue?" Tanya Rey polos.

Tak bergeming, Rin tetap diam pada posisinya sambil terus menatap Rey.

"Wei, lu mau ngelanjutin ini hah?!" Suara Rey naik satu oktaf, sontak saja membuat Rin gelagapan, buru-buru ia bangun dari aksi jatuhnya. "Enak ya tadi?" Rey pun ikut bangun dari tidur-tidurannya di lantai.

Rin yang sedang merapikan seragamnya untuk menghilangkan kegugupan pun tersedak dan langsung menatap laki-laki di depannya dengan pandangan datar.

Sontak seiisi kelas yang menyaksikan adegan tersebut saling sorak,

"Bisa aja lu Rey!"

"Modus bet!"

"Gas teross!" Dan masih banyak lagi.

Rin gelagapan, ia mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa ia mempermalukan dirinya di depan anak-anak sekelas. "Egh, E-enak aja! Lu aja yang cari kesempatan!" Teriaknya menghilangkan rasa gugup pada dirinya.

"Ye.. sok ngelak lagi lu! Jelas-jelas tadi elu yang di atas, berarti elu yang ngarep!" Ucap Rey tak mau kalah.

"Eh, kutu marmut! Ngaca dong lu itu siapa! Punya kaca nggak? Kayak ganteng aja! Dasar kutu bantet."

"Apa lu bilang?! Gua sumpel kaos kaki mau lu?! Dasar kutu curut!"

"Bantet! Gua bilang lu bantet!" Ejek Rin bersemangat, "bantet.. bantett.. kutu bantet!" Digoyang-goyangkan pinggulnya untuk mengejek Rey. Padahal ya, Rey itu lebih tinggi dari Rin tapi perempuan itu memang suka sekali mengejek Rey tidak sesuai kenyataan.

"Oh, lu mau pembalasan yang lebih kejam dari gua--"

"STOP!!!" Teriakan Ajun dan Ranty sukses membuat acara olok-olok mereka terhenti. Rey dan Rin saling pandang, melirik Ajun dan Ranty takut.

"Kalian tuh bisa nggak sih kalo sehari aja nggak cari keributan?" Ranty, perempuan dengan rambut panjangnya itu sahabat karib Rin. Dialah saksi dari semua kehebohan yang Rey dan Rin perbuat setiap mereka sudah bertemu.

"Dia yang mulai!"

"Dia yang--"

"STOP! Wei, pada diem ngapa sih?!" Ajun ikut menengahi. Nah, kalau si Ajun ini sahabat karibnya Rey. Buru-buru Rin menutup kedua telingannya sambil memejamkan mata.

Rey dan Rin itu bisa dibilang Tom and Jerry nya anak Bahasa. Tidak bisa barang sebentar saja untuk tidak membuat keributan, pasti ada saja yang mereka ributkan seperti saat ini, hal-hal yang tidak penting.

"Kalo gini terus kalian pacaran aja deh!"

"HAH?! Pacaran? OGAH!" Teriak Rey dan Rin bersamaan.

.
.
.

Tbc

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu