[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 5 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 5 || COKELAT PANAS

.
.
.

Pagi-pagi Rin menyempatkan diri ke perpustakaan, ada beberapa buku yang harus ia cari untuk mata pelajaran hari ini. Sayangnya si pemalas Ranty belum datang, terpaksa ia pergi sendiri. Di tengah perjalanan tidak sengaja ia melihat Rey sedang asyik bermain basket sendirian.

Sejak kapan Rey suka maen basket pagi-pagi gini? Sejak dia nggak ganggu gue kayaknya.

Ia terus memperhatikan Rey di tempat persembunyinya, takut-takut jika Rey mengetahui keberadaannya.

"Argh!" Rey mengumpat, melempar bola basket ke dalam ring dengan kasar. Ekspresinya berubah frustasi, ia berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya di antara lutut yang ditekuk.

Sikap Rey membuat Rin bertanya-tanya di tempat persembunyiannya. Kenapa Rey? Ada apa dengannya? Apa ada masalah dengan keluarganya (lagi)?, batin Rin bertanya.

Jujur saja selama ia mengenal Rey, ia tahu luar dalam laki-laki itu karena walaupun mereka selalu ribut adu mulut tapi ketika keduanya tidak membuat keributan, Rey akan menuju meja Rin dan bercerita semua kekesalannya seperti orang mabuk, tidak sadar. Namun Rin hanya menjadi pendegar setia, malah kadang ia menyalahkan Rey dalam cerita tersebut.

"Lu kenapa Rey?" Ucapnya lirih hampir tidak terdengar.

"WOY!" Deg! Seseorang menepuk pundaknya, buru-buru Rin menolehkan kepalanya. "Ngapain lu?" Tanya Ajun ternyata.

"Egh, gue... itu... gue lagi.. egh--"

"Kenapa dah lu? Gagap gitu jawabnya?"

Rin menelan salivanya, apa yang harus ia katakan pada Ajun. "Egh, itu... gua lagi nyari Ranty! Iya Ranty! Mana ya tuh anak?" Rin pura-pura mencari sosok orang yang dicarinya, berharap Ajun percaya.

"Ranty? Lu lupa tuh anak kalo berangkat siang? Tadi gue liat dia lagi di parkiran," jawab Ajun.

"Egh, iya... Ranty kalo berangkat emang ngepet--maksud gue mepet." Rin gelagapan, "yaudah, gue nyusul Ranty dulu. Dah." Buru-buru ia berlalu meninggalkan Ajun mematung di tempatnya.

Setelah kepergian Rin, Ajun mengintip dari tempat persembunyian Rin tadi. Dilihatnya Rey yang masih memegang bola basket di lapangan. "Gue yakin lu pasti kangen sama Rey."

.
.
.

Tbc
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu