Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2020

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 5 || COKELAT PANAS

. . .
Udah mendingan?
Jam menunjukkan pukul lima sore, kulihat notif pesan dari Bian sejak satu jam yang lalu. Dari pulang sekolah siang tadi aku benar-benar istirahat untuk memulihkan pusing di kepalaku.
Jari jemariku mengetik pesan balasan untuk Bian.
Udah. Makasih ya tadi udah dianterin pulang :)
Kupejamkan kedua mataku sembari menggeliat, sudah tidak sepusing tadi. Detik berikutnya dering pesan kembali masuk, aku tersenyum.
Cepet sembuh Ebiiii.. nggak ada lu di sekolah, gue jadi nggak ada semangat hohow
Lagi-lagi senyumku semakin lebar bahkan kini dengan suara. Aku selalu geli ketika dirinya memanggilku "Ebi" dengan "i" yang banyak, menggemaskan.

Dua hari sudah setelah kejadianku pingsan karena bola voli, dua hari pula aku sudah kembali ke sekolah karena memang pusing di kepala sudah mendingan.
Justru yang kupikirkan saat ini adalah keberadaan Bian yang tiba-tiba tidak muncul dihadapanku. Kemana ia?
Hatiku gelisah sejak kemarin malam. Entah sudah berapa ratus kali aku men…

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Selamat Jalan Ibu Guru

Masih teringat jelas ketika beliau mengajar di dalam kelas. Wajahnya yang putih, awet muda nan cantik dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Beliau satu-satunya guru yang mengenalku sebagai muridnya sekali pun kami bertemu di luar area sekolah.
Setiap kali berjumpa dan berjabat tangan, beliau selalu tersenyum dan menyebut namaku untuk memastikan apakah benar jika itu diriku, murid yang pernah beliau didik di kelas.
Seingatku beliau guru PPKN, ibu guru yang selalu ramah dan menampilkan senyum manisnya kepada semua muridnya.
Wajahnya yang awet muda membuatku seakan tidak percaya dengan kepergiaannya yang mendadak malam ini.
Ketika diriku baru saja pulang dari tempat kerja, seperti biasa aku selalu melewati rumah beliau ketika memasuki gang desa. Tapi malam tadi ada yang berbeda, dari jarak 15 meter kulihat kerumunan di tengah jalan. "Ada apa?" Pikirku tadi. Kuhentikan motorku dan menatap ke depan seksama. Tidak lama beberapa orang melambai untuk memintaku putar balik dan di…

[CERPEN] KALA ITU (8) || COKELAT PANAS

KALA ITUOleh: Cokelat Panas
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, aku dan Yayan berencana untuk pulang setelah kami mencicipi semua jajanan yang ada di pasar malam. Mulai dari arumanis, sempol, cilok, batagor, sampai jus buah khas pasar malam. Yayan benar-benar mewujudkan impianku untuk menjelajahi kuliner dengan tema jajanan pasar malam.
Aku tersenyum setelah dirinya mengantarku pulang sampai depan rumah. "Makasih ya," ucapku sembari memberikan helmnya.
"Iya." Yayan menerima helm yang kuberi tadi.
Aku kembali tersenyum, senyum yang malu-malu. "Udah sana balik ih!" Usirku gemas. Entahlah aku benar-benar merasa canggung karena ini pertama kalinya ia datang ke rumah untuk mengajakku pergi keluar.
"Enak aja main ngusir, aku kan mau pamit sama Ibuk." Yayan memakirkan dan turun dari motornya.
"Eh--mau kemana?! Nggak usah ih!" Hadangku cepat ketika dirinya hendak melangkahkan kakinya menuju gerbang.
"Apa sih? Kok ngelarang, ngapain sih? Tadi k…

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 4 || COKELAT PANAS

. . .
Siang ini kelasku ada kelas olahraga. Seperti biasa kami diminta untuk berkumpul di lapangan outdoor untuk melakukan kegiatan olahraga.
Setelah pemanasan dengan kehebohan kelasku, kegiatan kami dilanjutkan dengan olahraga bola voli. Beberapa kali tembakan lawan ke lawan menuju ruang reguku, aku menghindar, berusaha melindungi diri agar tidak mengenai bola voli yang keras. Jujur, aku tidak suka permainan ini karena aku tidak pernah bisa menembak bola dengan tepat.
"Febby! Tembak!" Bola yang Ifi tembak mengarah pada posisiku berdiri. Penglihatanku kabur karena tidak fokus, antara ingin menghindar juga menembak bola tapi justru bola tersebut yang lebih dulu mencium kepalaku keras.
Duak! Tubuhku terhuyung. Rasa pusing menguar di sekitar kepala, pandangan kaburku menangkap beberapa orang datang menghampiriku yang mungkin sudah tergeletak di lapangan, dalam sekejap semuanya gelap.

"Nggak papa, gue temenin Febby dulu aja. Kelas gue baru jam kosong, nanti kalo Febby udah bangun…

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 3 || COKELAT PANAS

. . .
Teriakan semangat, yel-yel, dan sorak-sorak di lapangan basket terdengar sejak satu jam yang lalu. Jam pelajaran sudah selesai sejak tadi, seperti biasa anak basket selalu mengadakan pertandingan basket setiap sabtu sore.
Aku melirik ke kanan dan kiri, tidak sedikit beberapa siswi meneriaki nama Bian ketika laki-laki itu terus mencetak poin tapi yang lebih menggemaskan adalah bagaimana bisa kapten basket yang tengah tanding di depanku adalah orang yang spesial di hatiku?
Bian, laki-laki itu berhasil memasukkan bola ke dalam ring, riuh di area lapangan menggelegar dan di detik bersamaan Bian melambaikan tangannya ke arahku. Aku kembali tersenyum.
Apa-apaan ini Febby! Kenapa diriku seberuntung ini bisa mengenalnya? Kenapa hatiku semakin berdebar?
"Cie, kapan diresmiin?" Luna, teman sekelas sekaligus teman sebangkuku menyenggol sambil menggoda.
Aku kembali tersenyum, senyum yang malu-malu untuk mengakuinya. Kapan ya kira-kira? Kapan ya Bian? Sepertinya begini sudah lebih dari cuk…

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 2 || COKELAT PANAS

. . .
Malam ini aku sama sekali tak berniat membuka buku. Bagaimana aku bisa fokus dengan pelajaran jika dari pulang sekolah tadi aku terus memikirkan Bian.
Septian Biantara? Kenapa cowok sekeren ia naik angkutan umum? Padahal sebelumnya aku tidak pernah melihat ia menunggu angkutan umum.
Kuambil ponselku yang tergeletak di atas meja belajar. Ada pesan dari... BIAN? “Ha? Bian? Ini serius Bian yang tadi?”
Dengan tangan bergetar aku membalas pesan singkat itu. Entah kenapa hati ini berdebar amat kencang, seulas senyum di bibirku pun tak kunjung pudar. Bian terus membalas pesanku dengan cepat dan aku pun terbuai dengan isi pesan yang kadang ia kirimkan padaku.
Setelah chatting-an malam itu, aku dan Bian semakin dekat. Hampir setiap hari kami pulang bersama, menunggu angkutan umum sambil mengobrol banyak hal. Setiap malam pun kami selalu chatting ria tiada henti. Hingga pada suatu hari Bian mengajakku jalan berdua. Apakah ini bisa disebut kencan? “Beli ice cream yuk!” ajakku saat kami baru saja m…

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 1 || COKELAT PANAS

OH, GUE AJA YANG BAPEROleh: Cokelat Panas
“Nunggu bis ya?” terdengar suara bariton masuk ke dalam gendang telingaku, perlahan kutengokkan kepala.
Deg! Aku membeku ketika mendapati sosok bagai malaikat berdiri di sampingku. Ia? Ia bukannya Septian Biantara? Murid kelas 3F11.
Bian, cowok ganteng nan kece. Sering dikerubungi cewek-cewek mulai dari kelas satu sampai kelas tiga karena jagonya main basket. Tunggu! Bahkan ia kapten basket? Oh Tuhan, apa benar yang berdiri di depanku sekaligus menyapaku ini Bian?
“Kok lo malah bengong?” mendengar suaranya aku segera tersadar dari lamunanku.
“Ah, sorry. Lo Bian kan?” bodoh! Kenapa malah pertanyaan tak berbobot macam itu yang keluar dari mulutku.
Bian tersenyum manis. Oh.. ayolah jantung jangan sampai kau berhenti sekarang! Aku menutup mataku sebentar dan memalingkan wajah.
“Lo Febby kan?”
Deg! Dengan segera kutengokkan kepalaku ke arahnya. Apa? Seorang Bian mengenalku?
“Kok lo tau?”
“Emang kenapa? Elo juga tau nama gue,” jawab Bian dengan gaya cool-nya.

[CERPEN] KALA ITU (7) || COKELAT PANAS

KALA ITUOleh: Cokelat Panas
03 Juni 2016
"Apa yang kamu pengen sebelum kenaikan kelas 12?" Yayan, laki-laki itu menatapku dalam, pandangannya selalu menghangatkan.
Kala itu, tepat seminggu sebelum Ujian Kenaikan Kelas tiba aku dan dirinya sengaja menghabiskan waktu untuk quality time berdua. Padahal kalau dipikir-pikir kami selalu bersama hampir setiap hari tapi tetep saja jalan, makan, dan mengobrol berdua adalah hal yang menyenangkan yang pernah aku rasakan.
Aku mengendikkan bahu. "Apa ya?" Gumamku lirih sambil menyeruput setengah gelas es jeruk miliku. "Mau nemenin kuliner?" Tanyaku pada akhirnya.
"Kuliner? Ke mana?" Yayan balik bertanya antusias.
"Nggak tau," jawabku polos.
Yayan tersenyum, lagi-lagi senyum yang menyejukkan. "Gimana kalo--" aku memperhatikan dirinya yang berbicara sambil berpikir, "pergi ke pasar malem?" Usulnya bersemangat, manik matanya memancarkan aura bercahaya.
"Di mana? Maukkk..." jawabk…

[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 4 (END) || COKELAT PANAS

. . .
“Nih Nad.”
Nada yang tengah duduk di depan layar televisi mendongak. “Apaan?”
“Surat cinta kalik.” Fauzi menyebar begitu saja kertas-kertas lipat dengan berbagai warna ke pangkuan perempuan itu.
“Fans-fans lo sekarang lebih agresif ya, fanatic. Ngeri gua,” ucap Nada sembari membuka lembar kertas tersebut.
“Gua risih banget kalo udah ada yang kayak gini, pasti kan yang lainnya pada ikut-ikutan. Mereka nggak liat kalik ya kalo gua udah punya elo,” ucap Fauzi sembari duduk di samping Nada, salah satu kakinya diletakkan di paha menyilang, ala laki-laki tulen.
“Ye.. emang kita apaan!” Nada mulai membaca kata demi kata pada kertas tersebut. “Jik! Lo ditembak!” teriaknya luar biasa menggelegar.
“Mati dong ya kalo gua ditembak?” Fauzi malah menyenderkan kepalanya di bahu perempuan itu.
“Ish, beneran! Nih, Kak Fauzi.. aku Wili anak 1C07, aku suka sama Kakak. Kakak itu ganteng juga baik, aku mau kita kenal lebih dekat, boleh kan Kak? Nah kan elo ditembak!” Nada membacakan sekiranya begitu isi surat…

[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 3 || COKELAT PANAS

. . .
Sejarah adalah kejadian masa lampau, sesuatu yang harus kita kenal, paham, dan pelajari untuk para generasi penerus. Namun sepertinya pengertian itu sudah berubah seiring berkembangnya bahasa gaul di Indonesia.
“Sejarah kan masa lampau berarti kan masa lalu, ngapain diinget-inget.”
“Masa lalu yang pahit kan harusnya kita move on, melanjutkan perjalanan ke masa depan.”
“Ngapain kalo mau maju tapi masih liat ke belakang, kapan majunya?”
Begitulah sekiranya celoteh anak-anak sekolah jaman sekarang. Namun berbeda dengan gadis yang sedari tadi memperhatikan sang guru yang sedang menjelaskan di depan papan tulis putih itu.
Siapa lagi kalau bukan Nada, perempuan itu sangat tertarik dengan apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Ia juga penasaran dengan manusia jaman dulu, juga pada saat para pahlawan Indonesia dengan beraninya membela Negara Indonesia, berusaha mempertahankan kedudukannya demi cinta mereka pada Negara berlambang burung garuda itu.
Sekilas Nada melirik teman sebangkunya, Fauz…

[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 2 || COKELAT PANAS

. . .
Seperti pagi pada umumnya, seluruh warga SMU 725 selalu geger dan terpana oleh kedatangan dua sejoli siswa kelas 3A10.
Fauzi Nadhif Altara, biasa dipanggil Fauzi tapi ada satu perempuan resek yang mempunyai panggilan spesial buat dirinya, Ajik plus ‘K’ jangan lupa. Laki-laki ganteng, keren, kece, dan menawan tapi kalau ditanya ia pintar atau tidak maka jawabannya nol besar. Bayangkan saja, soal matematika yang hanya mencari jumlah aritmetika saja ia tak bisa bagaimana mencari calon istri. Hha, tapi itu tak penting karena selagi dirinya masih selalu bersama perempuan cantik di sampingnya hidupnya akan bahagia.
Rastia Tere Alnada atau Nada, namanya. Perempuan cantik yang selalu berpenampilan apa adanya malah cenderung bodo amat. Ia adalah perempuan yang selalu setia berjalan di samping Fauzi, cewek blak-blakan, cerewet, dan selalu membuat Fauzi ingin memakannya habis-habis.
Namun jangan salah sangka, mereka tidak memiliki hubungan spesial. Mereka tidak pacaran, karena mereka adalah saha…

[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 1 || COKELAT PANAS

TEPUK ANGIN Oleh: Cokelat Panas
. Cerita ini pernah diikutsertakan lomba cerpen. .
Jika kalian bertanya apa itu cinta maka saat itu juga kalian sedang jatuh cinta. Tapi di sini bukan cinta yang mau gua bahas tapi mungkin kisah cinta yang klise.
Kisah ini berawal dari sebuah hubungan pertemanan tapi jangan kalian pikir bahwa ini cerita kuno, sahabat jadi cinta. Sekarang gini deh, kalian pasti pernah menjalin hubungan sama seseorang kan? Seseorang yang sudah buat kalian jatuh hati. Nah, sebelum kalian menjalani hubungan yang biasa anak jaman sekarang sebut pacaran pasti kalian melewati fase yang namanya temenan, mulai dari kenal, akrab, dan jadi teman dekat. Jadi jangan kalian pikir kalau hubungan yang tengah terjalin indah itu tidak berawal dari pertemanan.
Ini adalah kisah anak SMA, anak remaja yang tingkat emosionalnya masih tinggi, apalagi cewek.
“Jik, lo kalo maen jangan curang napa!” lagi dan lagi seorang perempuan yang duduk di sampingnya menjitak kepala laki-laki yang dipanggil ‘Jik’ it…

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Perkara Hati || Sedang Rindu || COKELAT PANAS

Bayangkan kata "aku" adalah kalian~
Hmm.. sudah lama ya. Sudah lama kita tidak tahu kabar. Tidak saling bertukar kabar, tidak pernah bertemu, bahkan satu sama lain tidak ada yang punya nomor kontak.
Kita yang jauh kini, pernah menjadi dua manusia yang sangat dekat. Kita yang kini sejauh matahari dan bumi dulu pernah sedekat nadi.
Kebersamaan singkat selalu meninggalkan kesan terbaik dalam ingatan. Separah apapun kamu menyakiti ketika di akhir, tetap saja tertimbun kenangan manis bersamamu.
Kenal tidak sampai satu tahun tapi move on nya satu tahun lebih. Sudah kubilang di awal, sedikit kenangan yang ia berikan selalu berada di posisi teratas ketika diingat.
Move on menyakitkan yang pernah dirasa adalah ketika kita berusaha sekuat tenaga untuk melupakan tapi orang yang sedang kita lupakan terus datang dengan membawa cerita kejadian indah di masa dulu. Membuat diri membenci keadaan, keadaan di mana seharusnya "aku" tidak pernah terjebak oleh perasaan itu padanya. Keadaan d…

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SMP || Nilai, Rangking Menjadi Patokan Orang Lain || COKELAT PANAS

Pernah berada pada posisi anak terpojokan, tidak memiliki banyak teman, dan selalu dibicarakan di belakang hingga akhirnya berlanjut pada nilai, rangking, dan masuk kelas apa kamu? Pintar, sedang atau bodo? Begitu kasarnya.
Biar kuperluas ceritanya, tingkat kepintaran seseorang sudah mulai dibanding-bandingkan ketika duduk di bangku Sekolah Menengah. Mungkin tidak semua, tapi pasti ada. Nilai menjadi tolak ukur siswa untuk menjadi maju.
Ingat ketika setiap ujian, aku selalu mendapatkan remedial terbanyak. Teman lain yang remedial banyak sebenarnya ada, tapi rasa tidak percaya diri membuat sosokku beranggapan hanya aku yang remedial paling banyak.
Juga, ditahap berikutnya ada rangking yang selalu ditanyakan setiap anak. Rangking berapa? Kalau tidak salah aku pernah mendapatkan peringkat tiga terbawah wkwk memang ya dasarnya bodo ya bodo saja.
Karena rangkinglah membuatku takut untuk menghadapi kenaikan semester atau kenaikan kelas. Kedatangan orang tua menjadi momok tersendiri pada diriku. …

[CERPEN] KALA ITU (6) || COKELAT PANAS

KALA ITUOleh: Cokelat Panas
Dua tahun mengenal Yayan membuatku nyaman dengan kehadirannya. Ia membuatku menjadi pribadi yang murah senyum dan banyak berbicara walaupun hanya pada beberapa orang setidaknya aku tidak se-introvert dulu.
"Mau kutraktir seblak?" Tawarnya ketika kami baru saja keluar kelas saat jam pelajaran telah usai. Entah mengapa ia selalu menungguku ketika pulang sekolah padahal kadang kalau kelasku dulu yang pulang aku selalu meninggalkannya dan ia berlari mengejarku agar kami tetep pulang bersama dalam satu angkutan umum.
Aku tersenyum sumringah. Ia benar-benar membuatku menjadi seseorang yang berbeda tapi apa adanya jika berhadapan dengan dirinya. Yayan lah orang yang membuatku menyukai makanan berkuah pedas tersebut.
"Udah pernah nyoba makan seblak?" Tanyanya beberapa minggu lalu.
"Makanan apaan itu? Lidi-lidian pedes itu?" Setauku dulu seblak adalah makanan lidi-lidian dengan bumbu merah yang pedas.
"Ini beda lagi. Suka pedes?" Ta…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 16 (END) || COKELAT PANAS

. . .
Entah sudah berapa jam Rin duduk terdiam bersebelahan dengan Rey. Pemakaman telah usai, beberapa pelayat sudah meninggalkan rumah duka, tadi teman-teman satu kelas pun datang mengucapkan bela sungkawa pada Rey. Tapi Rin, perempuan itu dengan setia menemani Rey yang masih duduk termenung atas kepergian ayahnya.
Rin memegang pundak Rey lembut. "Masuk yuk!" Ajaknya lembut. Tanpa menunggu jawaban, Rey langsung bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Keduanya duduk di karpet ruang tengah. Beberapa saudara juga tetangga dekat masih berada di sana. Dilihatnya perempuan cantik dengan jilbab menutupi sedikit kepalanya tengah mengusap air matanya berkali-kali dengan tisu, di sekelilingnya ada beberapa kerabat yang ikut menguatkan.
"Gue nyesel Rin." Suara Rey sontak membuatnya menoleh menatap pandangan Rey yang terfokus pada perempuan yang masih berduka tersebut. "Dalam diri dan hati gue, gue udah ikhlas dan ngijinin bokap buat nikah lagi--" Rey ke…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 15 || COKELAT PANAS

. . .
Mari kuperjelas sedikit tentang perasaanku pada makhluk bernama Rey. Jujur, aku menyukainya, aku menyukai tiap kebersamaan dengannya. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak mengakui itu pada diriku sendiri. Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya tapi aku tidak bisa terjebak dalam perasaan satu pihak ini. Aku harus bagaimana?
Rin menempelkan dagunya pada kedua tangan yang ia lipat pada meja, lampu belajarnya menerangi sekitar meja. Diambil buku diary berwarna hitam miliknya, ia ingin bercerita. Semalaman ia habiskan waktunya di meja belajar sampai tertidur di sana.

Pagi-pagi Rin sudah berada di area sekolah. Ia memang sengaja untuk berangkat lebih pagi agar rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan segera hilang. Sesampainya di dalam kelas, dirinya adalah orang pertama yang berangkat.
Rin menuju mejanya, meja nomer tiga sebelah kanan. Ia memasukkan beberapa buku paket yang sedari tadi ia tenteng ke dalam laci. Namun pergerakannya terhenti ketika tangannya menyentuh sesuatu. "Apaan ni…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 14 || COKELAT PANAS

. . .
Seseorang bisa saja bersikap ceria tanpa beban setiap bertemu tapi kita tidak pernah tahu apa yang tengah terjadi pada orang tersebut.
Sedari tadi Rin memperhatikan Rey yang sibuk berkumpul dengan teman laki-laki lainnya di pojok ruang kelas. Setelah kejadian mereka jalan bersama ke pasar malam di pagi hari, Rey sudah kembali menjadi sosok Rey yang periang dengan penuh keusilan. Walaupun dirinya juga Rey belum saling sapa atau saling usik seperti dulu, setidaknya sudah tidak ada kecanggungan lagi.
"Kemaren kenapa bolos Rin?" Pertanyaan Ranty membuatnya tersadar dari aksi memperhatikan seseorang.
Rin menoleh, "ke pasar malem."
Ranty mengerutkan keningnya bingung. "Gue tanya lu kemaren ke mana bolos, kok ke pasar malem? Lu aja bolos pagi-pagi." Perempuan itu nerocos tidak karuan meminta jawaban yang sesungguhnya dari sahabatnya.
"Ya emang pasar malem Ran, gue beneran ke pasar malem kok mau bohong ke mana coba?" Tanya Rin dengan nada kesal.
"Ters…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 13 || COKELAT PANAS

...
Motor vespa putih yang membawa dua anak dengan seragam SMA itu berhenti tepat di lapangan luas dengan berbagai macam wahana permainan tertutup terpal di tengah lapangan.Rin turun dari motor, pandangannya menyapu sekeliling sambil melepas helm yang masih terpasang di kepalanya. "Kita ngapain di sini?" Tanyanya setelah dirinya berhasil melepas helm.
Rey membalikkan badannya menatap perempuan yang dengan lancangnya ia culik. "Pasar malem," jawabnya polos dengan senyum.
Rin mengerutkan keningnya kesal, dipukulnya perut Rey pelan. "Ini masih pagi! Ngapain juga kita kesini? Ini juga belom pada buka kalik Rey! Mana bolos kan gue jadinya," gerutunya kesal, tanpa sadar ia pun menghentak-hentakkan kakinya.
Saat aksi mengocehnya, Rey langsung menggenggam tangan Rin dan menariknya mengitari lapangan. "Nggak ada yang larang juga ke pasar malem pagi-pagi kek gini."
"Ya tapi kan--"
"Emangnya ada yang bisa ngelarang jalan hidup tiap orang? Kalo ora…

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITUOleh: Cokelat panas
Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu?
Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku.
"Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu.
Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan.
"Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku.
"Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal.
"Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya.
"Emang kenapa? Aku sukany…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 12 || COKELAT PANAS

. . .
Halte bus Jalan Edelwies adalah tempat Rin saat pagi hari. Setiap hari ia memang selalu berangkat dan pulang menggunakan kendaraan umum, menunggu bus yang sesuai dengan jalur perjalanannya.
Ketika dirinya masih berada di halte tersebut, seseorang dengan motor vespa berhenti tepat di mana dirinya berdiri. Dilihatnya orang tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala. Siapa?
Orang tersebut membuka masker hitamnya, "ayo naik!" Deg! Rey? Ya, orang yang berhenti di hadapannya kini dan menawarkan tumpangan adalah Rey.
Rin buru-buru menggelengkan kepalanya, tanpa sadar langkahnya mundur ke belakang.
"Udah ayok! Ada yang mau gua omongin." Rey kembali menawarkan, suaranya sedikit berteriak agar suaranya tidak kalah dengan suara keramaian di jalan.
Rin akhirnya pasrah, lima belas menit lagi bel masuk pasti berbunyi. Ia pun naik ke jok belakang motor Rey dan motor vespa tersebut melesat menerobos kemacetan Ibu Kota.
Sepanjang perjalanan keduanya tidak ada yang memulai pembicaraa…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 11 || COKELAT PANAS

. . .
Entah bagaimana caranya Rin berdiri tepat di depan rumah laki-laki yang baru saja mengirimkan pesan singkat darinya. Ia menelan salivanya susah payah. Kenapa gue bisa ada di depan rumahnya Rey?
Ditolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, gelap, hari sudah petang. Ia benar-benar bisa ada di depan rumah Rey. Walaupun rumahnya dan Rey masih satu kompleks tapi ia masih tidak percaya berani keluar rumah di malam hari.
Dilangkahkan kakinya perlahan sampai di depan pintu rumah Rey, dipencet bel rumah sembari mengucapkan salam. "Assalamualaikum..."
Berselang beberada detik, pintu terbuka. "Waalaikumsalam," seorang bibi dengan baju daster bunga-bunga menyambut Rin di depan pintu. "Cari siapa Neng?" Tanyanya lembut.
Rin yakin pasti bibi itu adalah asisten di rumah Rey. Kaya juga ya tuh anak, segala ada bibi di rumahnya. "Egh, Rey ada Bi?" Tanyanya sopan.
"Neng temennya Mas Rey ya? Ayuk atuh mangga masuk..." si bibi menggeser tubuhnya, memberi jalan pa…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 10 || COKELAT PANAS

. . .
Jujur, gue benci banget sama keadaan ini, sama keadaan gue sekarang. Kenapa cuman gue yang ngerasain sakit? Lu egois, Rey. Lu nggak tau perasaan gue saat tatapan dingin lu ke gue. Gue nggak mau kita kayak gini. Gue... gue suka sama elu Rey!
"Shit!" Rin mengumpat setelah kata hatinya bersuara. Ia membenci dirinya yang selemah ini hanya karena sosok laki-laki bernama Rey. Rin membenci dirinya yang sebenarnya memiliki rasa pada Rey, ia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan itu timbul.
Ia memilih duduk sendirian di taman belakang sekolah, merenung, memikirkan banyak hal. Ia kembali teringat ketika Rachel menemui Rey dan disambut senyum manis laki-laki itu. Sebenernya kalian ada hubungan apa? Kenapa hati gue sesakit ini? Tanpa sadar air matanya menetes memenuhi pipinya.

"Rey?" Suara bariton yang Rey kenal terdengar setelah dirinya baru saja memasuki rumah. Dihentikan langkah kakinya tapi sama sekali tidak menolehkan kepalanya menatap lawan bicaranya. "Apa bisa s…

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 9 || COKELAT PANAS

. . .
Rin berdecak, bola matanya bergerak ke kanan dan kiri mencari seseorang. "Ranty mana sih? Ditungguin juga nggak muncul," gerutunya ketika sudah sampai kantin sejak tadi.
Pandangannya menyapu sekeliling, mencari sosok Ranty yang sedari tadi ditunggunya. Bukanya menangkap sosok sahabatnya, justru matanya berhenti pada sosok yang ia rindukan, Rey. Laki-laki itu tengah duduk sendirian di meja kantin, lumayan jauh dari pandangannya.
Rin terpaku melihat kegantengan Rey, ia sadari Rey memang tampan dengan tulang rahang yang keras, rambut yang sedikit gondrong lurus, kumis tipis hampir tak terlihat mata, mungkin hanya ia yang dapat melihatnya. Benar-benar, idaman--eh?
Di tengah aksinya menikmati ciptaan Tuhan, mendadak mood nya rusak ketika seorang siswi menghampiri Rey, sontak saja Rin membulatkan pupil matanya.
Rey menyunggingkan senyum ketika siswi tersebut datang. Rin tahu siapa perempuan itu, namanya Rachel anak kelas 11Bahasa. Sejak kapan mereka kenal? Mereka akrab banget. Tent…

[PODCAST] Bincang-Bincang Versi Paragraf || Murid SMP || Korban Bullying || COKELAT PANAS

Masa sekolah biasanya cenderung dengan belajar, ujian, bertemu teman-teman, dan mengenal banyak guru. Sekolah akan menjadi menyenangkan jika semua berjalan baik-baik saja tapi apa jadinya jika ada aksi bullying di dalam satu kelas?

Bullying menurut Wikipedia adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.

Tindakan tersebut bisa terjadi karena kubu A tidak suka dengan sikap kubu B, kubu A merasa tersaingi dengan kubu B, kubu A melakukan acaman, paksaan bahkan kadang kekerasan fisik pada kubu B.

Tiga tahun berada pada tempat yang tidak nyaman, tiga tahun dan hampir setiap hari harus menghabiskan waktu di sana dengan banyaknya omongan tentang diriku yang hanya mereka lihat luarnya saja.

Aku ada cerita, sebenarnya aku juga tidak tahu itu termasuk bullying atau apa. Ketika satu kelas menjauhi diriku karena aku berteman dengan seseorang yang dijauhi dan dikucilkan di kelas. Sebenarnya bukan hanya satu orang, tapi empat orang, lima bers…