[CERPEN] KALA ITU (8) || COKELAT PANAS Skip to main content

[CERPEN] KALA ITU (8) || COKELAT PANAS

 
KALA ITU
Oleh: Cokelat Panas

Jam menunjukkan pukul sembilan malam, aku dan Yayan berencana untuk pulang setelah kami mencicipi semua jajanan yang ada di pasar malam. Mulai dari arumanis, sempol, cilok, batagor, sampai jus buah khas pasar malam. Yayan benar-benar mewujudkan impianku untuk menjelajahi kuliner dengan tema jajanan pasar malam.

Aku tersenyum setelah dirinya mengantarku pulang sampai depan rumah. "Makasih ya," ucapku sembari memberikan helmnya.

"Iya." Yayan menerima helm yang kuberi tadi.

Aku kembali tersenyum, senyum yang malu-malu. "Udah sana balik ih!" Usirku gemas. Entahlah aku benar-benar merasa canggung karena ini pertama kalinya ia datang ke rumah untuk mengajakku pergi keluar.

"Enak aja main ngusir, aku kan mau pamit sama Ibuk." Yayan memakirkan dan turun dari motornya.

"Eh--mau kemana?! Nggak usah ih!" Hadangku cepat ketika dirinya hendak melangkahkan kakinya menuju gerbang.

"Apa sih? Kok ngelarang, ngapain sih? Tadi kan berangkatnya pamit masa pulangnya enggak. Udah ih diem aja!" Yayan terus ngotot, kaki jenjangnya melangkah menuju gerbang rumah.

"Ih Yayan--"

"Eh, kalian udah pulang?" Baru saja kami memasuki pekarangan rumah, ibu sudah muncul dari pintu.

Aku tertegun kikuk, kedua tanganku masih memegang ujung baju Yayan agar laki-laki itu tidak melanjutkan langkahnya. "Ibuk?"

Yayan tersenyum sopan pada ibu. "Buk.. maaf baru pulang," ucapnya sembari menjabat tangan ibu.

Ibu membalasnya dan tersenyum. "Abis pada dari mana sih kok sampe jam segini?" Tanya ibu lembut.

"Pasar malem," jawabku dengan senyum malu-malu.

"Ini Buk, minta jajanan sampe gerobak sama Abangnya mau dibawa pulang--aw! Sakit dih Ris." Yayan memegang pinggangnya yang kucubit karena dirinya mengarang cerita yang aneh-aneh.

Ibu geleng-geleng kepala. "Yaudah, sekarang Riris masuk ya.. Yayan pulang, udah malem. Besok lagi."

Aku langsung berlari menghampiri dan berdiri di sebelah ibu. Yayan tersenyum, "siap Ibuk. Yaudah, Yayan pulang dulu ya Buk.. dah Riris. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Hati-hati."

"Ati-ati yak!"

Setelah Yayan pulang, aku melirik ibu yang masih menatap kepergian Yayan sampai tidak terlihat di belokan. "Jadi itu yang sering Riris ceritain ke Ibuk?" Ibu menatap manik mataku lembut. Aku hanya tersenyum mendapati pertanyaan tersebut.


"Ibuk inget Yayan?"

"Yayan siapa Ris?"

Aku tertegun, ternyata ibu saja sudah lupa dengan sosok Yayan, lantas kenapa aku masih terus mengingatnya? Iya memang baru satu tahun Yayan meninggalkan kebersamaannya bersamaku tapi satu tahun itu merupakan hal yang lama untukku bisa menghapus dirinya dari ingatan dan hatiku. Tapi kenapa sampai saat ini aku belum juga melupakan dirinya?

Tuhan, aku hanya ingin terbebas dari kenangan manis yang menyakitkan itu tapi bagaimana caranya?

.
.
.

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu