[PODCAST] 7 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Perkara Hati || Sedang Rindu || COKELAT PANAS Skip to main content

[PODCAST] 7 Bincang-Bincang Versi Paragraf || Perkara Hati || Sedang Rindu || COKELAT PANAS

Bayangkan kata "aku" adalah kalian~

Hmm.. sudah lama ya. Sudah lama kita tidak tahu kabar. Tidak saling bertukar kabar, tidak pernah bertemu, bahkan satu sama lain tidak ada yang punya nomor kontak.

Kita yang jauh kini, pernah menjadi dua manusia yang sangat dekat. Kita yang kini sejauh matahari dan bumi dulu pernah sedekat nadi.

Kebersamaan singkat selalu meninggalkan kesan terbaik dalam ingatan. Separah apapun kamu menyakiti ketika di akhir, tetap saja tertimbun kenangan manis bersamamu.

Kenal tidak sampai satu tahun tapi move on nya satu tahun lebih. Sudah kubilang di awal, sedikit kenangan yang ia berikan selalu berada di posisi teratas ketika diingat.

Move on menyakitkan yang pernah dirasa adalah ketika kita berusaha sekuat tenaga untuk melupakan tapi orang yang sedang kita lupakan terus datang dengan membawa cerita kejadian indah di masa dulu. Membuat diri membenci keadaan, keadaan di mana seharusnya "aku" tidak pernah terjebak oleh perasaan itu padanya. Keadaan di mana membuat sosok "aku" menjadi manusia bodoh ketika mengenalnya.

Ia pernah bilang begini ketika "aku" takut kehilangannya; "gua nggak kemana-mana, gua di sini sama elu." Bullshit! Buaya darat! Berhenti mengucapkan kata-kata yang membuatmu semakin terlihat seorang fuck boy. Semua itu tidak terbukti, nyatanya beberapa minggu setelah ia mengatakan hal itu, ia pergi. Ia menghilang tanpa kabar sama sekali.

Dulu ketika ia menyatakan perasaan itu pada "aku" ia pernah berkata; "Tuhan itu Maha Membolak-balikkan hati manusia." Lagi dan lagi ia mengeluarkan gombalan busuknya hingga membuat perempuan polos seperti "aku" luluh. Sungguh miris adanya.

Satu tahun lebih berusaha untuk melupakan SEMUA tentang dirinya. Satu tahun lebih berada pada fase terpuruk karena terus berada pada bayang-bayangnya. Dan satu tahun lebih "diriku" menjadi sosok yang lemah dan menutup hati pada siapa pun.

Ia telah pergi meninggalkan segudang kenangan. Ia telah pergi dengan masa depan miliknya yang mungkin memang sudah dituliskan Tuhan pada Lauhul Mahfudz miliknya. Semua benar-benar pergi tak bersisa.

Kalau ditanya masih sering memikirkannya? Bukan memikirkan lebih tepatnya, hanya sekelebat teringat tapi hilang dalam sekejap dari ingatan. Kalau ditanya masih suka rindu? Bukan rindu lebih tepatnya, lagi-lagi hanya teringat dan hilang begitu saja dari ingatan.

Dulu ketika "aku" terpuruk kehilangan ia, aku selalu menyesali kehadiran dirinya pada "kehidupanku" aku selalu membenci masa-masa saat mengenal dirinya. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak pernah menyesal dengan semua pertemuan, kedekatan, kebersamaan, dan kehancuran saat bersamanya dulu, ini sudah jalannya. Dan "aku" bersyukur dengan semua yang pernah ia berikan. Ia mengajarkan bagaimana "aku" menjadi seseorang yang tegar soal cinta.
.

Nikmati podcast paragraf setiap Sabtu dan Minggu. Selamat hari Minggu dan selamat berkumpul dengan keluarga.

COKELAT PANAS
07:27pm

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu