[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 4 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 4 || COKELAT PANAS


.
.
.

Siang ini kelasku ada kelas olahraga. Seperti biasa kami diminta untuk berkumpul di lapangan outdoor untuk melakukan kegiatan olahraga.

Setelah pemanasan dengan kehebohan kelasku, kegiatan kami dilanjutkan dengan olahraga bola voli. Beberapa kali tembakan lawan ke lawan menuju ruang reguku, aku menghindar, berusaha melindungi diri agar tidak mengenai bola voli yang keras. Jujur, aku tidak suka permainan ini karena aku tidak pernah bisa menembak bola dengan tepat.

"Febby! Tembak!" Bola yang Ifi tembak mengarah pada posisiku berdiri. Penglihatanku kabur karena tidak fokus, antara ingin menghindar juga menembak bola tapi justru bola tersebut yang lebih dulu mencium kepalaku keras.

Duak! Tubuhku terhuyung. Rasa pusing menguar di sekitar kepala, pandangan kaburku menangkap beberapa orang datang menghampiriku yang mungkin sudah tergeletak di lapangan, dalam sekejap semuanya gelap.


"Nggak papa, gue temenin Febby dulu aja. Kelas gue baru jam kosong, nanti kalo Febby udah bangun gue kabarin elu."

"Yaudah, sekali lagi makasih ya."

Samar-samar kudengar percakapan seseorang tapi aku tidak tahu suara siapa itu. Suara tak asing yang tidak bisa kutebak.

Perlahan kubuka kelopak mataku, rasa berat di kepala masih memenuhi isi kepalaku. Kuharap aku tidak lupa ingatan.

"By? Udah bangun?" Suara itu, suara lembut itu masuk ke dalam gendang telingaku.

Kukedip-kedipkan kedua mataku, silau di ruangan tersebut membuatku mengeryitkan dahi.

"Hey?" Suaranya kembali terdengar.

Kembali kubuka kedua mataku, pandangan pudarku lama kelamaan menjadi jelas, membuatku dapat melihat dengan jelas siapa orang yang tengah mengajakku berbicara ini. "Bian?" Tanyaku lirih ketika sosok ialah yang berada di sebelahku.

Bian tersenyum, satu tangannya mengusap rambutku lembut. "Mau minum?" Ia langsung mengambil segelas air putih hangat yang entah sejak kapan sudah parkir di meja sebelah tempat tidurku. Aku meneguk air tersebut dengan bantuan dirinya.

"Sejak kapan?" Tanyaku lemas, entahlah kepalaku rasanya berat sekali.

"Gue di samping lu? Dari dulu sampai seterusnya." Jawaban yang bukan jawaban tersebut justru membuatku tersenyum.

Aku tidak tahu kenapa ada Bian di ruangan ini? Kenapa bisa Bian? Padahal jelas-jelas seingatku aku dan teman-teman satu kelas tengah berada dalam pelajaran olahraga di lapangan dan ada bola yang melayang ke arah kepalaku. Aku pingsan? Tapi kenapa bisa Bian yang berada di sini? Tahu dari mana dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan membingungkan tersebut hanya membuat kepalaku kembali pusing. Satu jam sebelum bel pulang berdering, Bian mengantarku pulang ke rumah setelah mendapatkan ijin.


"Kemenangan lu, ketika lu berhasil nembak dan mutusin dia di hari yang sama!"

.
.
.

Tbc
Ditunggu kelanjutan ceritanya sampai besuk Senin ya :x

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU 1 || COKELAT PANAS

KALA ITU 2 KALA ITU Oleh: Cokelat Panas Namaku Riris, disini aku akan menceritakan kisahku yang sedikit ruyam. Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah hidupku dimana aku mempunyai teman, sahabat, bahkan best friend for ever dengan seorang laki-laki. Seumur-umur aku tidak pernah bisa dekat dengan laki-laki karena aku hanyalah perempuan biasa yang bergaul dengan perempuan saja, bisa dibilang aku parno dengan laki-laki entah kenapa. Namun, tepat tiga tahun lalu hidupku sedikit berubah, ada warna ketika dia datang. Namanya Iyan tapi aku lebih sering memanggilkan Yayan. Aku mengenalnya ketika kami duduk di bangku satu SMA, ketika Masa Orientasi Siswa lebih tepatnya. Kala itu semua siswa baru berbaris di lapangan dengan beragam atribut aneh, namun saat itu aku kehilangan ikat pinggang yang terbuat dari permen yang disusun melingkar. Aku panik, bagaimana bisa hilang? Seingatku ketika berangkat sekolah tadi aku membawanya. Aku panik bukan kepalang ketika kakak senior berjalan hamp