[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 10 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 10 || COKELAT PANAS


SECRET ADMIRER Part 11
.
.
.

Jujur, gue benci banget sama keadaan ini, sama keadaan gue sekarang. Kenapa cuman gue yang ngerasain sakit? Lu egois, Rey. Lu nggak tau perasaan gue saat tatapan dingin lu ke gue. Gue nggak mau kita kayak gini. Gue... gue suka sama elu Rey!

"Shit!" Rin mengumpat setelah kata hatinya bersuara. Ia membenci dirinya yang selemah ini hanya karena sosok laki-laki bernama Rey. Rin membenci dirinya yang sebenarnya memiliki rasa pada Rey, ia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan itu timbul.

Ia memilih duduk sendirian di taman belakang sekolah, merenung, memikirkan banyak hal. Ia kembali teringat ketika Rachel menemui Rey dan disambut senyum manis laki-laki itu. Sebenernya kalian ada hubungan apa? Kenapa hati gue sesakit ini? Tanpa sadar air matanya menetes memenuhi pipinya.


"Rey?" Suara bariton yang Rey kenal terdengar setelah dirinya baru saja memasuki rumah. Dihentikan langkah kakinya tapi sama sekali tidak menolehkan kepalanya menatap lawan bicaranya. "Apa bisa sehari aja kamu nggak pulang malem? Kita butuh cerita--"

"Buat apa?" Putus Rey cepat, masih sama sekali tidak menolehkan kepalnya.

"Rey..." laki-laki dewasa di belakang Rey menyuarakan suara lembutnya, berharap anak semata wayangnya bisa luluh, "tolong ngertiin penjelasan Papa, kita bisa bicarain baik-baik. Tante Aida itu perempuan baik seperti--"

"Berhenti sama-samain Almarhumah Mamah sama perempuan lain!" Akhirnya Rey membalikkan badannya, bersitegang dengan tubuh kekar Papanya. "Kalo Papa mau nikah silahkan! Itu bukan urusanku! Karena kehidupan Papa bukan kehidupanku!" Ia pun langsung berlari menyusuri tangga, masuk ke kamar dan menguncinya.

"Rey! Papa nggak mungkin menikah lagi kalo belom dapet ijin dari kamu!" Teriakan menggelegar sang Papa sama sekali tidak dihiraukan Rey di lantai atas.

Di ruangan lain, di kamar lantai atas ada hati yang menjerit menerima kenyataan hidupnya. "Gue nggak rela kalo Bokap menghilangkan semua kenangan tentang Mamah, gue nggak rela Mamah tergantikan, cuman itu doang!" Air matanya menetes, kedua tangannya ia genggam penuh amarah, ia tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan.


Tringgg...

Rin membuka ponselnya ketika dering terdengar, pesan masuk, dari Rey? "Rey?" Ia mengerutkan keningnya ketika pesan singkat dari Rey masuk ke ponselnya. Gue nggak tau gue harus apa, bantu gue."

Deg! Tubuhnya bergetar hebat, "apa maksudnya?"

.
.
.

Tbc
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu