Skip to main content

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 12 || COKELAT PANAS


.
.
.

Halte bus Jalan Edelwies adalah tempat Rin saat pagi hari. Setiap hari ia memang selalu berangkat dan pulang menggunakan kendaraan umum, menunggu bus yang sesuai dengan jalur perjalanannya.

Ketika dirinya masih berada di halte tersebut, seseorang dengan motor vespa berhenti tepat di mana dirinya berdiri. Dilihatnya orang tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala. Siapa?

Orang tersebut membuka masker hitamnya, "ayo naik!" Deg! Rey? Ya, orang yang berhenti di hadapannya kini dan menawarkan tumpangan adalah Rey.

Rin buru-buru menggelengkan kepalanya, tanpa sadar langkahnya mundur ke belakang.

"Udah ayok! Ada yang mau gua omongin." Rey kembali menawarkan, suaranya sedikit berteriak agar suaranya tidak kalah dengan suara keramaian di jalan.

Rin akhirnya pasrah, lima belas menit lagi bel masuk pasti berbunyi. Ia pun naik ke jok belakang motor Rey dan motor vespa tersebut melesat menerobos kemacetan Ibu Kota.

Sepanjang perjalanan keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan, sesekali Rin melirik kaca spion untuk mengintip wajah Rey dari kaca tapi justru malah dirinya yang kepergok tengah melirik Rey.

"Eh, kita mau ke mana? Kalo ke sekolah kan belok kanan, kok ini malah ke kiri? Puter balik dong?!" Teriak Rin ketika ia sadar jika kendaraan yang mereka tumpangi tidak melaju ke tujuan sebenarnya.

"Udah, tenang aja. Gua nggak bakal nyulik lu juga kok. Apanya coba yang bisa dijual? Bobrok semua gini--"

Pletak! Satu jitakan keras mengenai helm tanpa kaca milik Rey, si empunya bukannya marah justru malah tertawa cekikikan.

Rin ikut tersenyum, senyum tipis yang sengaja ia tutupi agar tidak ketahuan Rey bahkan untuk mengaku pada dirinya saja ia tidak mampu.

.
.
.

Tbc

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU
Oleh: Cokelat Panas

.
-Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu-
.
Hai, aku Karamel dan ini kisahku..

“Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp
Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.”

Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja.

Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini?

Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pedih yang kadang aku tertawakan, lucunya.

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 4 || COKELAT PANAS

.
.
.

Seiring berjalannya waktu, semua berubah, tidak ada keributan lagi di kelas 12Bahasa2. Tidak ada keusilan yang sengaja diciptakan, tidak ada lagi si troublemaker couple yang selalu membuat warna di kelas. Semuanya hilang dalam sekejap, kelas menjadi tenang, kaku, kikuk, dan canggung di antara keduanya.

Bagaimana tidak, sosok Rey dan Rin si Tom and Jerry 12Bahasa2 tidak ada lagi, mereka mendadak menjadi murid normal yang kalem, tidak pernah berteriak, tidak pernah saling kejar-kejaran di dalam kelas, boro-boro tegur sapa bahkan menatap saja tidak.

Bukan, bukan ini yang diinginkan Rin, ia tidak ingin tatapan dingin Rey setiap hari, ia tidak sanggup jika setiap hari harus merasakan canggung ketika berpapasan dengan Rey. Rey berubah, Rey berbeda dan Rin tidak suka dengan sikap Rey yang seperti itu padanya.

Lagi-lagi pagi ini suasana canggung itu datang lagi. Rin dan Ranty baru saja keluar dari perpustakaan dan akan kembali ke kelas karena bel masuk akan berbunyi. Sayangnya Rin haru…

[CERPEN] LUKA || COKELAT PANAS

LUKA
Oleh: Cokelat Panas

Tentang hati, selalu ada cara ia mempermainkan pemiliknya. Tentang hati, banyak cara ia memberi luka dan luka, walau begitu aku selalu menghargai apa yang hati lakukan, apa yang hati rasakan walaupun harus kembali membuat luka dan menambalnya, begitu seterusnya.

Aku kembali termenung ketika netra ini menangkap sosok laki-laki tampan berjalan mendekatiku, ia tersenyum, senyum yang entah sudah berapa ribu kali kulihat, senyum yang selalu membuat bibir dan hatiku tersenyum amat lebar. "Alvin." Suaraku lirih, ia kembali tersenyum dan melebarkan langkahnya supaya segera sampai pada posisiku berdiri.

"Lama nggak?" Tanyanya sesampainya di depanku.

Aku tak segera menjawab, mataku memicing dengan senyum miring. "Kalo lama berarti traktir ice cream dong ya?!" Ucapku bersemangat.

"Enak aja! Kemaren udah Din, jangan suka malak orang deh!" Jawab Alvin sambil mengacak rambut sebahuku sampai berantakan.

Aku hanya meringis sambil berus…