[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 13 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 13 || COKELAT PANAS


SECRET ADMIRER Part 14

.

.

.


Motor vespa putih yang membawa dua anak dengan seragam SMA itu berhenti tepat di lapangan luas dengan berbagai macam wahana permainan tertutup terpal di tengah lapangan.

Rin turun dari motor, pandangannya menyapu sekeliling sambil melepas helm yang masih terpasang di kepalanya. "Kita ngapain di sini?" Tanyanya setelah dirinya berhasil melepas helm.


Rey membalikkan badannya menatap perempuan yang dengan lancangnya ia culik. "Pasar malem," jawabnya polos dengan senyum.


Rin mengerutkan keningnya kesal, dipukulnya perut Rey pelan. "Ini masih pagi! Ngapain juga kita kesini? Ini juga belom pada buka kalik Rey! Mana bolos kan gue jadinya," gerutunya kesal, tanpa sadar ia pun menghentak-hentakkan kakinya.


Saat aksi mengocehnya, Rey langsung menggenggam tangan Rin dan menariknya mengitari lapangan. "Nggak ada yang larang juga ke pasar malem pagi-pagi kek gini."


"Ya tapi kan--"


"Emangnya ada yang bisa ngelarang jalan hidup tiap orang? Kalo orang itu mau jalan maju padahal orang terdekatnya ngelarang, dia bakal nurutin kemauannya? Enggak kan? Sekali pun kita orang terdekatnya, kita nggak akan bisa ngelarang dan ngatur-ngatur jalan hidup orang lain." Rey terus berbicara, pandangannya menatap lurus dengan tangannya yang masih menggenggam tangan perempuan yang berjalan di sampingnya.


Rin tertegun, ditatapnya wajah Rey dari samping. Ia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Rey saat ini. Tapi yang ia sadari laki-laki itu pasti tengah bercerita suatu kegelisahannya.


"Bokap gue bakal merried minggu depan Rin. Padahal lu tau kan nyokap baru aja pergi tiga bulan lalu. Gue nggak tau kenapa Papah bisa semudah itu ngelupain Mamah gitu aja, padahal jelas-jelas sampe sekarang pun gue masih berduka atas kepergian Mamah." Rey menelan ludahnya pahit, "gue nggak tau bokap brengsek atau--"


Rin buru-buru memegang tangan Rey yang masih menggenggamnya. "Lu nggak boleh ada pikiran gitu, kalo pun bokap lu ngelakuin kesalahan, lu nggak boleh benci sama dia. Mau seburuk apapun bokap lu, dia orang tua elu Rey, sosok Ayah yang udah besarin lu dari lu masih dalem kandungan sampe segede ini." Rey menatap manik mata Rin dalam, keduanya sudah menghentikan langkah mereka menyusuri lapangan, berhenti tepat pada wahana permainan terakhir, biang lala. "Nanti malem kesini lagi yuk! Kita naik ini," ucap Rin antusias sambil menunjuk biang lala jumbo yang belum beroperasi.


"Sekarang juga bisa kok. Ikut gue!" Rey menarik Rin menuju biang lala yang indah tersebut. Entah bagaimana bisa Rey menyewa biang lala tersebut dengan meminta pawangnya untuk menyalakan khusus untuk mereka pagi ini.


"Kok bisa?" Tanya Rin ketika mereka berdiri di depan pintu biang lala untuk mereka tumpangi.


"Nggak ada yang nggak bisa buat Rey. Udah.. naik aja." Rey menuntun perempuan itu untuk menaiki wahana tersebut.


Keduanya pun menikmati putaran demi putaran biang lala tersebut. Senyum Rin terus merekah, dirinya benar-benar menikmati wahana tersebut karena memang biang lala adalah wahana permainan yang ia sukai sejak kecil. "Kalo malem pasti lebih cantik," gumamnya ketika pandangannya sibuk menatap bawah, melihat semua yang ada di bawahnya menjadi kecil.


Rey tanpa sadar tersenyum melihat tingkah menggemaskan Rin saat ini. "Makasih ya Rin."


.

.

.


Tbc

  [TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 14 || COKELAT PANAS

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu