[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 14 || COKELAT PANAS


SECRET ADMIRER Part 15
.
.
.

Seseorang bisa saja bersikap ceria tanpa beban setiap bertemu tapi kita tidak pernah tahu apa yang tengah terjadi pada orang tersebut.

Sedari tadi Rin memperhatikan Rey yang sibuk berkumpul dengan teman laki-laki lainnya di pojok ruang kelas. Setelah kejadian mereka jalan bersama ke pasar malam di pagi hari, Rey sudah kembali menjadi sosok Rey yang periang dengan penuh keusilan. Walaupun dirinya juga Rey belum saling sapa atau saling usik seperti dulu, setidaknya sudah tidak ada kecanggungan lagi.

"Kemaren kenapa bolos Rin?" Pertanyaan Ranty membuatnya tersadar dari aksi memperhatikan seseorang.

Rin menoleh, "ke pasar malem."

Ranty mengerutkan keningnya bingung. "Gue tanya lu kemaren ke mana bolos, kok ke pasar malem? Lu aja bolos pagi-pagi." Perempuan itu nerocos tidak karuan meminta jawaban yang sesungguhnya dari sahabatnya.

"Ya emang pasar malem Ran, gue beneran ke pasar malem kok mau bohong ke mana coba?" Tanya Rin dengan nada kesal.

"Terserah lu deh, cepek gue," ucap Ranty acuh. Di tenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja, tidur siang adalah kegiatan rutinnya.


Jam istirahat sudah selesai dari lima menit lalu, Rin mempercepat langkahnya menuju kelas. Ia baru saja menyelesaikan remidial di ruang guru, hanya ia sendiri. Wajar saja, Rin itu tipe anak yang paling benci dengan Bahasa Inggris, ia adalah manusia bodoh dalam Bahasa Inggris. Tapi yang lebih menyedihkan adalah kenapa hanya dirinya yang remedial? Benar-benar memalukan.

Ketika langkahnya sampai pada koridor samping lapangan, pandangannya terpusat pada seseorang yang tengah memasukkan bola basket pada ring. Bruk! "Eh?" Bola matanya terbelalak ketika orang tersebut terpeleset dan jatuh.

"Argh! Bangsat!" Umpat orang itu sambil melempar bola basket sembarang.

"Rey? Iya itu Rey!" Rin segera melangkahkan kakinya menghampiri Rey di tengah lapangan. "Rey?" Panggilanya sesampai dirinya berada di belakang laki-laki itu.

Sosok tersebut menolehkan kepalanya, menatapnya sekilas dan kembali memalingkan wajah.

Tanpa menunggu perintah, Rin duduk di samping Rey. "Lu pakek basket buat meluapkan emosi pada masalah lu? Gue pikir karena tantangan dari Ajun sebulan lalu," ocehnya menatap lurus.

"Maksud lu?" Rey merebahkan tubuhnya pada lantai lapangan sambil memejamkan mata.

"Bukannya bener kata lu, kita nggak bisa ngelarang jalan hidup seseorang? Berhenti buat nyalahin diri lu atau orang lain soal masalah yang ada di hadapan lu, Rey." Rin menatap Rey yang masih memejamkan mata. "Menjadi manusia ikhlas adalah hal mulia."

Dan gue pun ikhlas kalo emang cuman gue yang nyimpen perasaan ini ke elu, lanjut Rin dalam hati.

.
.
.

Tbc
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS