[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 15 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 15 || COKELAT PANAS


SECRET ADMIRER Part 16
.
.
.

Mari kuperjelas sedikit tentang perasaanku pada makhluk bernama Rey. Jujur, aku menyukainya, aku menyukai tiap kebersamaan dengannya. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak mengakui itu pada diriku sendiri. Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya tapi aku tidak bisa terjebak dalam perasaan satu pihak ini. Aku harus bagaimana?

Rin menempelkan dagunya pada kedua tangan yang ia lipat pada meja, lampu belajarnya menerangi sekitar meja. Diambil buku diary berwarna hitam miliknya, ia ingin bercerita. Semalaman ia habiskan waktunya di meja belajar sampai tertidur di sana.


Pagi-pagi Rin sudah berada di area sekolah. Ia memang sengaja untuk berangkat lebih pagi agar rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan segera hilang. Sesampainya di dalam kelas, dirinya adalah orang pertama yang berangkat.

Rin menuju mejanya, meja nomer tiga sebelah kanan. Ia memasukkan beberapa buku paket yang sedari tadi ia tenteng ke dalam laci. Namun pergerakannya terhenti ketika tangannya menyentuh sesuatu. "Apaan nih?"

Diambilnya sesuatu itu dari dalam laci mejanya, sebatang cokelat dengan kertas yang menggulung menutupi. Rin celingak-celinguk mencari seseorang. Siapa yang sudah meletakkan cokelat ini di lacinya? Begitu kira-kira yang ada dibenaknya saat ini.

Perlahan ia membuka kertas yang menggulung cokelat tersebut, ternyata itu adalah sebuah surat.

'Gue yakin lu pasti bingung pas nemu dan baca surat ini. Gue nggak tau kenapa gue sepengecut ini buat ngomong langsung ke elu, Rin. Tapi gue nggak peduli, karena lu tetep bisa tau isi hati gue lewat surat ini.

Rin, makasih buat tiga tahun kebersamaan di dalam situasi kelas. Makasih selalu nerima kekonyolan yang selalu gue ciptain buat elu. Gue nggak tau kalo semuanya bisa berakhir sekarang. Gue harap walaupun kita nggak bisa ketemu lagi, seenggaknya lu nggak lupain gue, begitu pun dengan gue.

Makasih ya Rin, buat masukan dan kekuatan yang lu kasih ke gue belakangan ini. Gue nggak tau kalo nggak ada lu, gue gimana sekarang. Mungkin gue bisa frustasi nggak nemu jalan. Walaupun setelah gue bener-bener nemuin jawaban atas kegelisahan gue, gue juga menyesal karena udah ninggalin elu, Rin.

Jangan sedih ya, gue tau lu nggak bakalan sedih. Lu kan benci banget sama gue wkwk. Gue juga benci kok sama elu, soalnya kalo gue sayang sama elu, berabe urusannya hiyaaa.. udah ah, gila gue.

Oh ya, kalo lu dapet kabar tentang gue jangan sedih ya. Nggak akan sedih atau nangis si elu mah. Tapi nih ya tapi kalo misalnya lu sedih, gue udah nyiapin cokelat gede buat lu nih, biar lu nggak sedih lagi. Pinter bet kan gue.

Gue harap kita bisa ketemu lagi dan pergi ke pasar malem di malam hari biar lu bisa naik biang lala dan ngeliat pemandangan indah itu lagi, bareng gue.

Udah dulu ya, Rin. Gue pamit. Babay..'

Secarik kertas putih itu kini sudah basah penuh dengan tetesan air matanya. Rey? Kenapa lu nulis ini buat gue? Apa maksudnya? Lu mau pergi ke mana?

Jujur, ia tidak tahu. Sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Rey tidak pernah mengatakan apa-apa padanya soal kepergiannya yang entah kemana. Dan sekarang ia harus bertanya pada siapa?

"Katanya bokap Rey meninggal hari ini." Deg! Pandangannya terfokus pada dua teman sekelasnya yang baru saja datang, lebih syok lagi pembicaraan mereka tentang Ayah Rey.

Apa maksudnya? Ayah Rey meninggal? Maksud.. maksud dari meninggal--

Tanpa menunggu aba-aba, tanpa basa-basi Rin langsung melangkahkan kakinya keluar kelas. Tidak! Ia tidak bisa kehilangan sosok Rey dengan keadaan yang seperti ini. Ia harus menemui Rey saat ini juga!

• 

Rin, perempuan seragam putih abu-abu dengan kemeja panjang yang tidak pernah dikancing sebagai jaket itu berhenti tepat di depan rumah yang sudah ramai oleh pelayat dengan pakaian duka mereka.

Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdetak sangat-amat cepat ketika dirinya berada di tengah-tengah situasi tersebut. Ditelan salivanya pahit, kakinya perlahan ia langkahkan menuju rumah tersebut, terdengar isakkan tangis beberapa orang. Rin kembali menghentikan langkahnya, matanya terpusat pada sosok laki-laki dengan pakaian serba hitam duduk di kursi tengah menundukkan kepalanya.

Rey?

.
.
.

Tbc
 
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu