[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 16 (END) || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 16 (END) || COKELAT PANAS


 SECRET ADMIRER Part 16
.
.
.

Entah sudah berapa jam Rin duduk terdiam bersebelahan dengan Rey. Pemakaman telah usai, beberapa pelayat sudah meninggalkan rumah duka, tadi teman-teman satu kelas pun datang mengucapkan bela sungkawa pada Rey. Tapi Rin, perempuan itu dengan setia menemani Rey yang masih duduk termenung atas kepergian ayahnya.

Rin memegang pundak Rey lembut. "Masuk yuk!" Ajaknya lembut. Tanpa menunggu jawaban, Rey langsung bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Keduanya duduk di karpet ruang tengah. Beberapa saudara juga tetangga dekat masih berada di sana. Dilihatnya perempuan cantik dengan jilbab menutupi sedikit kepalanya tengah mengusap air matanya berkali-kali dengan tisu, di sekelilingnya ada beberapa kerabat yang ikut menguatkan.

"Gue nyesel Rin." Suara Rey sontak membuatnya menoleh menatap pandangan Rey yang terfokus pada perempuan yang masih berduka tersebut. "Dalam diri dan hati gue, gue udah ikhlas dan ngijinin bokap buat nikah lagi--" Rey kembali bersuara. Rin dengan serius mendengarkan dan memperhatikan. "Tapi... belom sempet gue bilang itu ke Papah, Papah udah pergi gitu aja Rin." Rey menundukkan kepalanya. "Gue nyesel, gue bener-bener anak yang durhaka Rin." Isakkan tangisnya kini terdengar.

Entah mengapa hal itu membuat hati Rin menjerit sakit. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang kini tengah dirasakan Rey. Ia tidak bisa melihat keterpurukan laki-laki yang ia kagumi sejak lama, laki-laki yang selalu membuatnya semangat untuk ke sekolah karena dengan bertemu dirinya dan Rey bisa selalu dekat.

Rin mengusap pundak Rey lembut, dadanya begitu sesak. "Gue yakin Papa lu pasti liat dan denger omongan lu. Papa pasti tau kebaikan yang diperbuat anaknya, beliau nggak akan kecewa sama semua ini." Sekuat hati ia menenangkan Rey bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Besok gue bakal pergi Rin," ucap Rey sembari menatap manik mata Rin.

"Maksud lu?" Rin mengerutkan keningnya bingung, "yang di surat itu--" belum selesai ia bertanya, Rey sudah mengangguk pelan.

Rey kembali menatap perempuan berhijab itu di pojok ruangan, masih dengan beberapa kerabatnya. "Papah nikah atau Papah pergi pun gue akan tetep ninggalin lu, Rin." Ia kembali bercerita tanpa menatap perempuan di sampingnya. "Cuman bedanya, kalo Papah masih ada dan nikah sama Tante Lisia, gue bakal ikut Papah ke luar kota. Tapi--Tuhan berkehendak lain, mungkin Tuhan denger keinginan gue yang gue bilang gue nggak pengen Papah nikah dan menghilangkan semua kenangan bersama Mamah. Tuhan mengabulkan keinginan gue dengan cara membuat cinta Papah kekal sampai akhir hayat hanya untuk Mamah dengan cara membuat raga Papah menghilang dari dunia ini." Rey menelan ludahnya susah payah. "Padahal bukan itu maksud gue, bukan seperti ini yang gue mau."

Rin berkali-kali menguatkan dirinya agar tidak meneteskan air mata, tapi tidak bisa, ia tidak bisa menahan tangis yang terus memintanya keluar.

"Eyang dari Mamah nyaranin gue buat ikut mereka ke Jerman, karena gue udah nggak punya siapa-siapa. Gue nggak akan bisa hidup sendirian dengan kehancuran seperti ini, Rin." Kini Rey kembali menatap Rin dalam, satu tangannya mengambil tangan Rin dan digenggamnya. "Makasih ya Rin buat kebaikan yang selalu lu lakuin ke gue selama ini. Makasih lu udah ngasih warna dalam hidup gue selama ini. Makasih udah mau jadi partner troublemaker gue di kelas, gue pasti bakalan kangen, sekarang aja kangen." Di akhir katanya Rey tersenyum.

Rin tidak menjawab, ia hanya bisa menangis dan menangis. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini, ia tidak bisa menerima kepergian Rey dalam hidupnya.

"Jangan nangis, lu kan nggak bisa nangis karena gue." Rey kembali tersenyum, satu tangannya ia usap perlahan pada puncak kepala Rin lembut.

Dan sepertinya beginilah akhir dari semua penantian semu yang panjang.


Setengah jam taksi yang akan mengantar Rey dan beberapa saudaranya ke bandara akan tiba di rumah.

Lagi dan lagi Rey menghembuskan napasnya gusar. Ditatapnya rumah penuh kenangan kedua orang tuanya itu lekat. Dan pada akhirnya gue kehilangan semuanya.

"Mas Rey, ini punya temen lu bukan sih?" Jiro, adek sepupunya menghampirinya sembari mengulurkan buku bersampul hitam.

Rey mengerutkan keningnya bingung menatap buku tersebut, diambilnya. "Temen gue siapa?"

"Itu.. cewek yang nemenin lu sampe sore. Gue buka halaman pertama namanya kayak sama pas lu panggil cewek itu," jelas Jiro.

Rey membuka buku tersebut pada halaman pertama. Arini Putri Salsabilla. Deg! Rey membulatkan bola matanya. Buku Rin? Ia segera menuju kamarnya setelah berpamitan sebentar pada sepupunya, Jiro.

Sesampainya ia di dalam kamar, Rey mengambil ponselnya cepat, ada pesan masuk dari Rin.

Hati-hati di jalan. Hari ini ada ulangan matika.

Begitu isi pesannya.

Dengan hati bergetar ia membuka lembar buku tersebut, Diary, begitu tulisannya. Pandangannya terpusat pada pembatas buku berwarna pink di halaman tengah-tengah, hanya ada satu, dibukanya halaman tersebut.

"Dear Diary,
Aku bingung dengan perasaanku saat ini, aku pun bingung ingin tau perasaannya. Mungkin tidak seharusnya aku punya perasaan ini padanya, Diary.

Sejak pertama mengenalnya aku sudah tertarik, hingga pada akhirnya ia membuatku kesal setengah mati tapi aku menyukainya.

Kau tau Diary? Kejahilannya selalu membuatku kesal, berteriak, dan marah tapi aku suka. Kadang aku berharap bel masuk tidak berbunyi agar keributan itu tidak berhenti.

Sayangnya semua itu harus hilang dan tidak kembali terulang ketika sohib gilanya memberikan kami perjanjian konyol. Sehingga ia menjauhiku, ia bukanlah dirinya yang kukenal. Ia menjadi cuek dan dingin padaku dan yang lebih menyakitkan lagi ketika dirinya bersikap manis dan ramah pada perempuan lain, 11Bahasa, padahal aku tidak pernah melihatnya bersikap seperti itu pada perempuan siapa pun.

Hatiku sakit, rasanya amat terluka. Aku berpikir ia egois dengan membiarkanku sakit sendirian. Apakah dirinya tidak tau kalau aku menyukainya? Dari dulu hingga saat ini sepertinya aku hanya akan menjadi pengagum rahasianya.

Seperti lirik lagu yang pernah kudengar; 'when you love someone just brave to say that you want him to be with you. When you hold your love, don't ever let it go or you will loose change.' Sayangnya aku tidak seperti itu karena aku hanya secret admirernya."

"Rin?" Tubuh Rey menegang setelah membaca tulisan itu, badannya bergetar hebat. Ia tahu dan ia yakin ini semua adalah isi hati Rin tentang dirinya. "Seandainya lu tau gue juga suka bahkan sayang sama lu." Rasanya sangat menyakitkan ketika ia tahu perempuan yang selalu ia tatap dari kejauhan, yang dirinya selalu buat ulah agar perempuan itu menatap dan memperhatikannya juga menyukainya. Tapi apa yang bisa ia lakukan dalam situasi seperti ini?

"Mas Rey, ayo berangkat! Taksinya udah dateng!"

.
.
.

END
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu