[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 2 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 2 || COKELAT PANAS



.
.
.

Seperti pagi pada umumnya, seluruh warga SMU 725 selalu geger dan terpana oleh kedatangan dua sejoli siswa kelas 3A10.

Fauzi Nadhif Altara, biasa dipanggil Fauzi tapi ada satu perempuan resek yang mempunyai panggilan spesial buat dirinya, Ajik plus ‘K’ jangan lupa. Laki-laki ganteng, keren, kece, dan menawan tapi kalau ditanya ia pintar atau tidak maka jawabannya nol besar. Bayangkan saja, soal matematika yang hanya mencari jumlah aritmetika saja ia tak bisa bagaimana mencari calon istri. Hha, tapi itu tak penting karena selagi dirinya masih selalu bersama perempuan cantik di sampingnya hidupnya akan bahagia.

Rastia Tere Alnada atau Nada, namanya. Perempuan cantik yang selalu berpenampilan apa adanya malah cenderung bodo amat. Ia adalah perempuan yang selalu setia berjalan di samping Fauzi, cewek blak-blakan, cerewet, dan selalu membuat Fauzi ingin memakannya habis-habis.

Namun jangan salah sangka, mereka tidak memiliki hubungan spesial. Mereka tidak pacaran, karena mereka adalah sahabat sejati. Mereka telah bersama sekitar 62 bulan 29 hari 2 jam lewat 31 menit 15 detik, sepertinya.

“Jik, lo udah ngerjain tugas Pak Kemal belom?” tanya Nada ketika mereka masih berjalan di koridor kelas.

“Lo nanya pe-er sama gua? Belom minum obat apa hem?” Fauzi merangkul pundak Nada.

“Oiya.. elo kan males anaknya! Eh, bukan tapi sama aja kalo lo ngerjain juga belom tentu bisa,” celoteh Nada panjang lebar.

“Kak Fauzi?” langkah keduanya terhenti ketika seorang gadis imut memanggil nama Fauzi.

“Iya?” jawab Fauzi dengan tangan yang masih setia di pundak Nada.

“Em.. itu—aku.. aku disuruh ngasih ini ke Kakak.” Gadis dengan rambut dikepang yang bersandarkan pada pundak kirinya itu memberikan secarik kertas yang terlipat.

Fauzi melirik Nada begitu pun dengannya. Kemudian dia melepaskan rangkulannya. “Apa ini?” ia menerima kertas itu.

“Makasih Kak Fauzi mau nerima.” Gadis di depan mereka menatap Nada perlahan. “Maaf Kak Nada.” Setelah itu ia pergi meninggalkan dua sejoli dengan tanda tanya.

“Apaan sih?!” Nada kembali melangkahkan kaki jenjangnya, melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

Dengan segera Fauzi mengejar langkah perempuan itu. “Kalo cemburu bilang aja,” bisik Fauzi tepat di telinga kiri Nada.

Mendengar hal demikian perempuan di sampingnya langsung memukul lengan kanan Fauzi dengan keras namun sayang cowok itu malah menghindar. "Jadi cowok jangan ke ge-er an! Kayak lu ganteng aja!" Sungutnya dan berlalu meninggalkan laki-laki itu di belakangnya.

.
.
.

Tbc
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu