[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 3 || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 3 || COKELAT PANAS



.
.
.

Sejarah adalah kejadian masa lampau, sesuatu yang harus kita kenal, paham, dan pelajari untuk para generasi penerus. Namun sepertinya pengertian itu sudah berubah seiring berkembangnya bahasa gaul di Indonesia.

“Sejarah kan masa lampau berarti kan masa lalu, ngapain diinget-inget.”

“Masa lalu yang pahit kan harusnya kita move on, melanjutkan perjalanan ke masa depan.”

“Ngapain kalo mau maju tapi masih liat ke belakang, kapan majunya?”

Begitulah sekiranya celoteh anak-anak sekolah jaman sekarang. Namun berbeda dengan gadis yang sedari tadi memperhatikan sang guru yang sedang menjelaskan di depan papan tulis putih itu.

Siapa lagi kalau bukan Nada, perempuan itu sangat tertarik dengan apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Ia juga penasaran dengan manusia jaman dulu, juga pada saat para pahlawan Indonesia dengan beraninya membela Negara Indonesia, berusaha mempertahankan kedudukannya demi cinta mereka pada Negara berlambang burung garuda itu.

Sekilas Nada melirik teman sebangkunya, Fauzi, laki-laki itu tertidur pulas dengan kepala tergeletak di atas meja. Kebiasaannya ketika mata pelajaran sejarah, tertidur di kelas.

“Bosen Nad gua dengernya! Mending kalo gua ngerti, lah gua kagak paham juga.” Begitulah kalimat yang akan keluar jika Nada membangunkan tidurnya.

Tet.. tett.. tett..

Bel istirahat telah berbunyi, Fauzi perlahan menggeliat bahkan dia sempat merangkul bahu Nada hingga dagu perempuan itu terbentur meja karena Fauzi menariknya.

“Aw! Ajik! Nyebelin banget sih lo!” teriak Nada geram.

“Zik, kalo mau ngajak bini jangan di sekolah! Di rumah entar,” ucap Pio sambil menepuk lengan Fauzi pelan sambil berlalu keluar kelas.

“Jik! Lepas nggak nih! Ajik!!” teriak Nada lagi sambil mencoba melepas pitingan Fauzi.

“Nad, gua sayang elo,” gumam Fauzi dengan mata tertutup.

“Iya gua tau! Lepas ih! Elo tuh ya! Lepas Ajik!” teriak Nada lagi.

“Abang Fauzi dicari adek kelas cantik!" Teriak Ihsan dari kursi deretan depan. "Masuk aja Dek, dia lagi pacaran di belakang,” tambahnya pada seseorang yang katanya tadi mencari Fauzi.

Dengan cepat Nada mendongakkan kepalanya, menatap Ihsan dan beralih ke arah pintu. Ia melihat dua gadis memasuki kelasnya, salah satunya gadis yang memberi selembar kertas pada Fauzi tadi pagi.

“Jik!!!” beres, akhirnya Nada bisa terbebas dari pitingan Fauzi dan laki-laki itu sukses terbangun.

“Nad, kok udahan sih?!” rengek Fauzi menatap sendu perempuan di sampingnya.

“Tuh.” Nada memainkan dagunya dan menatap dua gadis yang berjalan mendekati meja mereka. Fauzi pun mengikuti pandangannya, dilihatnya dua perempuan mendekat ke arah mereka berdua.

.
.
.

Tbc
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu