[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 4 (END) || COKELAT PANAS Skip to main content

[TEENFICTION] TEPUK ANGIN Part 4 (END) || COKELAT PANAS



.
.
.

“Nih Nad.”

Nada yang tengah duduk di depan layar televisi mendongak. “Apaan?”

“Surat cinta kalik.” Fauzi menyebar begitu saja kertas-kertas lipat dengan berbagai warna ke pangkuan perempuan itu.

“Fans-fans lo sekarang lebih agresif ya, fanatic. Ngeri gua,” ucap Nada sembari membuka lembar kertas tersebut.

“Gua risih banget kalo udah ada yang kayak gini, pasti kan yang lainnya pada ikut-ikutan. Mereka nggak liat kalik ya kalo gua udah punya elo,” ucap Fauzi sembari duduk di samping Nada, salah satu kakinya diletakkan di paha menyilang, ala laki-laki tulen.

“Ye.. emang kita apaan!” Nada mulai membaca kata demi kata pada kertas tersebut. “Jik! Lo ditembak!” teriaknya luar biasa menggelegar.

“Mati dong ya kalo gua ditembak?” Fauzi malah menyenderkan kepalanya di bahu perempuan itu.

“Ish, beneran! Nih, Kak Fauzi.. aku Wili anak 1C07, aku suka sama Kakak. Kakak itu ganteng juga baik, aku mau kita kenal lebih dekat, boleh kan Kak? Nah kan elo ditembak!” Nada membacakan sekiranya begitu isi surat tersebut.

“Bodo amat!” Fauzi malah memeluk Nada dan menyembunyikan kepalanya disela-sela rambut perempuan itu, harum.

Nada pun membuka surat satunya, kali ini dia tak bersuara. Beberapa kali ia menelan ludah ketika membaca surat tersebut. “Jik, lepas!” perintah Nada datar. Namun tak ada respons dari laki-laki itu, Fauzi malah mengeratkan pelukannya. “Ajik lepas!” Nada mencoba berontak dengan suaranya yang mulai terisak.

“Elo kenapa Nad?” Fauzi mendongak menatap perempuan di sampingnya namun tidak melepas pelukannya.

“Lepas gua bilang!” Nada kembali berontak dengan isak tangis yang mulai terdengar jelas bahkan kedua pipinya sudah penuh dengan air mata.

Fauzi yang tak tahu apa-apa perlahan melepas pelukannya. Sejujurnya ia masih bingung, ada apa dengan Nada? Selama mereka kenal, Nada tak pernah berontak atau pun marah ketika dirinya ingin bermesraan dengannya. Lalu kenapa?

“Nad, lo kenapa?” suara Fauzi melemah, ia menghapus air mata di pipi perempuan itu lembut namun dengan cepat Nada menepisnya kasar.

“Jangan sentuh gua!”

“Nad!” Fauzi geram dengan perubahan sikap dari Nada. Ia melirik kertas yang masih dipegang Nada kuat-kuat dan direbutnya kertas tersebut. Dibacanya setiap goresan yang entah siapa penulisnya. Wajahnya langsung memerah, amarah memuncak di ubun-ubun. Tanpa sadar dirinya meremas kertas tersebut. “Nad, dengerin gua!” Fauzi memegang kedua tangan Nada hingga perempuan itu menghadap ke arahnya.

“Harusnya gua sadar Jik, nggak seharusnya kita saling kenal! Nggak seharusnya gua ada di deket lo terus dan ngebiarin lo seakan-akan terikat sama gua!”

Fauzi menggeleng kuat-kuat. “Nggak Nad, lo nggak salah! Gua sayang sama lo Nad, gua nggak bakal ninggalin lo!”

“Gua tau itu tapi gua seharusnya nggak deket-deket sama lo! Gua nggak mau ada cewek yang merasa nggak nyaman gara-gara gua.”

Fauzi mengumpat mendengar penuturan perempuan di depannya. “Persetan sama cewek-cewek itu! Mereka bahkan nggak tau hubungan yang kita jalanin. Kalo gitu kita pacaran aja!” tuturnya mantap.

Nada menatap wajah cowok tampan di depannya itu kemudian ia menggeleng. “Nggak Jik, cewek nggak cuman gua! Bahkan ada cewek di luar sana yang lebih merhatiin lo—”

“Dan lo nyuruh gua sama cewek itu? Cewek yang udah ngatain lo macem-macem? Iya? Nggak bakalan Nad! Gua sukanya sama elo, gua sayangnya sama elo, gua cintanya sama elo! Jadi gua maunya sama elo!”

“Gua tau! Gua tau itu Jik! Tapi gua nggak bisa! Dulu gua pernah bilang kan sama lo, kita temenan aja, kita sahabatan aja. Karena gua pengen lo jadi pelindung gua saat hati gua dilukai sama seseorang,” ucap Nada masih dengan isak tangisnya.

“Dan orang yang nyakitin elo gua? Iya kan Nad? Gua nggak mau itu! Gua nggak mau nyakitin cewek yang gua sayang, gua maunya ngelindungin elo dari orang-orang yang mau bikin kita pisah. Gua mau ngejaga elo, gua nggak mau biarin elo nangis kayak gini lagi. Yah?” Fauzi kembali menghapus air mata pada pipi perempuan itu lembut, menatapnya dengan penuh kasih sayang.

“Gua nggak pantes Jik buat lo, elo dikelilingi fans yang pengen kita nggak deket-deketan. Lo terlalu tinggi buat gua, gua nggak pantes Jik!” setelah merucap demikian Nada berlalu dari hadapan Fauzi.

“Nad! Nada!” namun sayang panggilan Fauzi pun tak diindahkan oleh perempuan itu.

Ini yang gua takutin Nad, hubungan yang nggak tau mau diapain dan digimanain. Bahkan kita tahu, kita saling menyayangi tapi kenapa susah banget buat ngeyakinin elo kalo semuanya baik-baik aja selama kita bersama.

.
.
.

END
 

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU Part2 SOAL RINDU Oleh: Cokelat Panas . -Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu- . Hai, aku Karamel dan ini kisahku.. “Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.” Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja. Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini? Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pe

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU Oleh: Cokelat Panas   Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.   Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.   "Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.   Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini

[CERPEN] KALA ITU (5) || COKELAT PANAS

KALA ITU (6) KALA ITU Oleh: Cokelat panas Ingat tidak kenapa pada akhirnya aku memanggilmu Yayan bukan nama Iyan ketika kamu memperkenalkan dirimu? Kala itu tepat satu tahun kita kenal. Satu tahun pula kamu mengejarku, kamu berusaha terus untuk menemuiku. "Ris?" Yayan memanggilku ketika aku dan dirinya tengah melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Jam pelajaran sudah usai lima menit lalu. Aku tak menjawab panggilannya, walau pun sudah satu tahun kenal tapi justru Yayan lah yang mengenalku lebih banyak. Karena aku tidak pernah berani untuk memulai pembicaraan. "Risss..." panggilnya lagi dengan nada panjang di akhir. Karena aku masih belum menjawab panggilannya, tiba-tiba ia menjawil daguku. "Ish--" aku melengos, "Raihan!" Sungutku kesal. "Kok Raihan si Ris? Iyan aja," selanya cepat. Sebenarnya sudah lama ia selalu menyuruhku memanggil dirinya 'Iyan' tapi aku selalu enggan karena aku lebih suka memanggil nama aslinya. "Ema

[CERPEN] KALA ITU (2) || COKELAT PANAS

KALA ITU (3)  KALA ITU   Oleh: Cokelat Panas   Sejujurnya aku sedikit risih dengan kedekatanku dengan Yayan karena seperti yang kubilang di awal jika aku belum pernah punya teman laki-laki. Yayan mengikuti langkahku ketika pembimbing memanggil anak kelas sepuluh untuk berkumpul kembali ke aula. Pergerakanku jadi tidak nyaman, salah tingkah, berkali-kali aku memperlambat langkah agar dirinya melewatiku tapi sepertinya anak itu sengaja berjalan di belakangku. "Kenapa grogi gitu sih?" Tanyanya yang masih berjalan di belakangku. Sontak aku menghentikan langkah kakiku dan bruk! Tubuhku terhuyung ke depan ketika seseorang menabrakku. Aku mengaduh dan buru-buru membalikkan badan, kulangkahkan kaki mundur selangkah ketika sosok Yayan berada dekat denganku. "Kalo mau berenti bilang kenapa deh," ucapnya. "Ya kenapa nggak liat depan?" Refleks aku mengatakan demikian padanya. Yayan tersenyum, senyum yang manis tapi jujur aku tidak tahu apa maksud dari senyu