Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2020

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITUOleh: Cokelat Panas
Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.
Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.
"Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.
Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini beranjak ma…

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 8 (END) || COKELAT PANAS

. . .
Langit-langit mendung menyapaku sore ini tapi entah kenapa aku sudah memegang ice cream cup rasa stroberi. Aku tidak mengerti dengan diriku kenapa bisa melakukan hal ini.
Area sekolah sudah sepi sejak tadi karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Langkah kakiku semakin cepat ketika kurasa hujan akan turun sebentar lagi. Namun ketika aku melewati gudang alat olahraga, tidak sengaja aku mendengar suara beberapa orang di dalamnya.
Siapa di dalem?
Entah kenapa rasa penasaranku pun muncul tiba-tiba. Perlahan aku mengintip dari balik jendela gudang tersebut. Deg! Bian? Kenapa ada Bian di dalam sana?
Kulihat empat orang termasuk Bian di dalam tengah mengobrol sambil menghisap sebatang rokok. Pandanganku tidak bisa lepas dari sosok Bian yang berbeda saat di depan anak-anak, bahkan saat di depanku. Yang kulihat kini ia seperti anak brandal yang mengerikan.
"Nggak usah pakek perasaan kenapa Yan!" Suara besar keluar dari mulut laki-laki bertubuh gempal.
"Tau ni anak. Lu…

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 7 || COKELAT PANAS

. . . “Febby!” aku tersentak ketika Bian berdiri di depanku.
Bian? Benarkah itu dia?
“Hey, kok ngelamun? Nunggu bis ya?” Bian duduk di sampingku, seperti pertama kali ia menemuiku di tempat ini, tempat yang sama.
Kenapa ini terasa aneh, ganjil. Ini seperti dè javu, aku seperti pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Bukankah Bian memang pernah menyapaku persis seperti yang baru saja dirinya lakukan?
“Febby, lo tidur ya?” aku kembali tersentak ketika Bian mencubit hidungku.
“Ih! Apaan sih lo!” kutepis tangannya. Kupalingkan wajahku acuh, pasti pipiku sudah merah dan kenapa aku tersenyum?
“Cia, kalo ngambek lucu banget sih lo.” Lagi-lagi Bian menggodaku seperti saat bersama.
Entah kenapa hati ini kembali luluh. Setelah melihat wajah tulus dan caranya memperlakukanku seperti sedia kala hingga membuatku lupa bahwa dia pernah meninggalkan luka di hatiku.
"Kadang kita harus melakukan suatu hal yang menyakitkan pada seseorang padahal hati kita menolaknya karena kita nggak sungguh-sungguh buat…

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 6 || COKELAT PANAS

. . . Bel masuk mungkin akan berbunyi lima menit kemudian, kulangkahkan kakiku cepat ketika baru turun dari angkutan umum. Sudah beberapa hari ini aku selalu telat sampai di sekolah, selalu saja terburu-buru.
Diriku baru saja melewati tangga dan berpijak pada lantai dua, langkahku terhenti ketika manik mataku menangkap sosok Bian berjalan berlawanan dari arahku. Baru saja bibirku ingin tersenyum menyapanya, tapi Bian melewatiku begitu saja tanpa menatapku.
Kenapa ini? Ada apa Bian? Kutolehkan kepalaku menatap kepergiannya yang sama sekali tidak menoleh sedikitpun ke arahku.
Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan Bian? Kenapa kamu datang dan pergi seakan tidak mengenalku seperti ini?

"Serius Bian udah nggak ngenalin lu Feb?" Entah sudah berapa kali Luna melontarkan pertanyaan yang membuatku jengah mendengar namanya.
Kuangkat kedua bahuku sebagai jawaban, aku tidak tahu, aku tidak mengerti kenapa ia seperti itu padaku. Kenapa kamu datang dan mengisi hariku Bian? Kenapa kamu datan…