Skip to main content

[CERPEN] KALA ITU Part 9 || COKELAT PANAS

KALA ITU
Oleh: Cokelat Panas

Tiap yang datang pasti akan pergi. Tiap yang singgah tidak akan selalu menetap. Dan semua pun tahu tiap yang bernyawa pasti akan mati.

Suasana perayaan kelulusan terasa menyenangkan sekaligus mengharukan. Pandanganku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling. Gedung sekolah, lapangan basket, taman bunga, hingga tatapanku berhenti pada sosok laki-laki yang sudah kukenal selama tiga tahun ini, sosok yang selalu ada kapan pun waktunya. Dirinya, Yayan, Raihan Ananta, laki-laki bak malaikat yang kutemui tiga tahun lalu. Masih teringat jelas pertama kalinya kami bertemu, sosoknya yang dengan gigih berusaha mendekatiku. Kupikir kala itu, ia hanya angin lalu yang muncul sekelebat dan hilang entah kemana. Tapi nyatanya ia bisa bertahan di sampingku sampai saat ini.

"Selanjutnya sesi foto kelas 12Bahasa2 dipersilahkan." Suara MC membuyarkan lamunanku.

Yayan dan teman-teman sekelasnya turun dari panggung. Sedangkan aku dan teman-teman sekelas yang kini beranjak maju ke atas panggung untuk sesi foto berikutnya.

Saat diriku hendak naik pada tangga panggung, aku dan Yayan berpapasan. Yayan mengusap puncak kepalaku sambil tersenyum, tentu saja itu membuat teman-teman bersorak menggoda kami. Aku tersenyum, senyum yang malu-malu seperti biasa.


Pukul dua siang acara kelulusan telah usai, beberapa ada yang langsung pulang ke rumah untuk merayakan dengan keluarga, ada pula yang memilih merayakan kebersamaan dengan teman-teman di area sekolah atau kafe-kafe kecil.

Kedai seblak menjadi pilihanku dan Yayan pastinya. Dirinya yang mengajakku ke tempat itu, katanya untuk merayakan kelulusan juga ada yang ingin ia bicarakan.

"Makasih Mas," ucapku ketika si abang seblak membawa pesanan kami ke atas meja.

"Emmm.." aku bergumam sembari menghirup aroma sedap pada makanan berkuah tersebut.

Tiba-tiba saja Yayan menyentil pelan keningku. "Siapa yang ngajarin doyan seblak?"

Aku langsung menunjuk dirinya dengan dagu. "Situ," jawabku dengan akhiran memeletkan lidah mengejek. Yayan tersenyum.

Kami pun menghabiskan waktu bersama sambil menikmati makanan berkuah tersebut, sesekali mengobrol sambil tertawa.

"Ris?" Aku berdehem ketika Yayan memanggilku. Dua mangkuk seblak di depan kami sudah kosong. "Jangan sedih ya?"

Aku mengerutkan kening bingung. "Maksudnya?"

"Satu hal yang nggak bisa kamu terima kalo seseorang di sekitarmu pergi apa?" Tanya Yayan serius.

Aku berpikir, antara berpikir kemana arah pembicaraannya juga mencari jawaban atas pertanyaannya. "Kalo orang itu pergi karena udah dipanggil sama yang di atas gimana? Apa aku tetep boleh punya satu hal yang nggak aku terima atas kepergiannya?"

Yayan tidak langsung menjawab, tubuhnya mundur beberapa centi. "Apapun keadaannya."

Aku kembali berpikir. "Hal yang nggak bisa aku terima kalo seseorang yang selalu ada untukku pergi adalah membenci dirinya, kenapa ia datang ke dalam kehidupanku jika pada akhirnya pergi meninggalkan? Memang benar jika kata singgah tidak pernah bisa berubah jadi menetap, terus kenapa ia harus singgah jika seperti itu akhirnya?" Jawabanku lebih kepada sebuah pertanyaan, pertanyaan yang terkesan aku tengah menanyakan hal itu pada orang di depanku. "Tapi--"

"Minggu depan aku bakal ke Jerman, Ris."

Deg! Jantungku berpacu kencang, napasku mendadak berhenti. Apa katanya? Apa kata Yayan barusan?

"Maksud kamu?"

.
.
.

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU
Oleh: Cokelat Panas

.
-Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu-
.
Hai, aku Karamel dan ini kisahku..

“Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp
Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.”

Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja.

Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini?

Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pedih yang kadang aku tertawakan, lucunya.

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 4 || COKELAT PANAS

.
.
.

Seiring berjalannya waktu, semua berubah, tidak ada keributan lagi di kelas 12Bahasa2. Tidak ada keusilan yang sengaja diciptakan, tidak ada lagi si troublemaker couple yang selalu membuat warna di kelas. Semuanya hilang dalam sekejap, kelas menjadi tenang, kaku, kikuk, dan canggung di antara keduanya.

Bagaimana tidak, sosok Rey dan Rin si Tom and Jerry 12Bahasa2 tidak ada lagi, mereka mendadak menjadi murid normal yang kalem, tidak pernah berteriak, tidak pernah saling kejar-kejaran di dalam kelas, boro-boro tegur sapa bahkan menatap saja tidak.

Bukan, bukan ini yang diinginkan Rin, ia tidak ingin tatapan dingin Rey setiap hari, ia tidak sanggup jika setiap hari harus merasakan canggung ketika berpapasan dengan Rey. Rey berubah, Rey berbeda dan Rin tidak suka dengan sikap Rey yang seperti itu padanya.

Lagi-lagi pagi ini suasana canggung itu datang lagi. Rin dan Ranty baru saja keluar dari perpustakaan dan akan kembali ke kelas karena bel masuk akan berbunyi. Sayangnya Rin haru…

[CERPEN] LUKA || COKELAT PANAS

LUKA
Oleh: Cokelat Panas

Tentang hati, selalu ada cara ia mempermainkan pemiliknya. Tentang hati, banyak cara ia memberi luka dan luka, walau begitu aku selalu menghargai apa yang hati lakukan, apa yang hati rasakan walaupun harus kembali membuat luka dan menambalnya, begitu seterusnya.

Aku kembali termenung ketika netra ini menangkap sosok laki-laki tampan berjalan mendekatiku, ia tersenyum, senyum yang entah sudah berapa ribu kali kulihat, senyum yang selalu membuat bibir dan hatiku tersenyum amat lebar. "Alvin." Suaraku lirih, ia kembali tersenyum dan melebarkan langkahnya supaya segera sampai pada posisiku berdiri.

"Lama nggak?" Tanyanya sesampainya di depanku.

Aku tak segera menjawab, mataku memicing dengan senyum miring. "Kalo lama berarti traktir ice cream dong ya?!" Ucapku bersemangat.

"Enak aja! Kemaren udah Din, jangan suka malak orang deh!" Jawab Alvin sambil mengacak rambut sebahuku sampai berantakan.

Aku hanya meringis sambil berus…