Skip to main content

[TEENFICTION] OH, GUE AJA YANG BAPER Part 8 (END) || COKELAT PANAS


.
.
.

Langit-langit mendung menyapaku sore ini tapi entah kenapa aku sudah memegang ice cream cup rasa stroberi. Aku tidak mengerti dengan diriku kenapa bisa melakukan hal ini.

Area sekolah sudah sepi sejak tadi karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Langkah kakiku semakin cepat ketika kurasa hujan akan turun sebentar lagi. Namun ketika aku melewati gudang alat olahraga, tidak sengaja aku mendengar suara beberapa orang di dalamnya.

Siapa di dalem?

Entah kenapa rasa penasaranku pun muncul tiba-tiba. Perlahan aku mengintip dari balik jendela gudang tersebut. Deg! Bian? Kenapa ada Bian di dalam sana?

Kulihat empat orang termasuk Bian di dalam tengah mengobrol sambil menghisap sebatang rokok. Pandanganku tidak bisa lepas dari sosok Bian yang berbeda saat di depan anak-anak, bahkan saat di depanku. Yang kulihat kini ia seperti anak brandal yang mengerikan.

"Nggak usah pakek perasaan kenapa Yan!" Suara besar keluar dari mulut laki-laki bertubuh gempal.

"Tau ni anak. Lu mau menangin taruhan ini enggak?" Tanya satu orang dengan rambut gondrong.

"Tinggal sedikit lagi lu bisa menang," sambung laki-laki berperawakan tinggi. "Tapi kalo lu nggak mau menangin juga nggak papa, duit taruhan buat kita bertiga, ya nggak?" Tambahnya dan sorak-sorak dari dua orang yang tadi berbicara.

"Bukan gitu masalahnya--"

"Apa? Lu cuman tinggal nembak dia, kalo jadian nah sorenya lu putusin dia dengan cara lu jalan sama gebetan lu yang lain. Simpel Yan!" Laki-laki berambut gondrong tadi langsung memutus ucapan Bian.

Mereka merencanakan sebuah taruhan? Soal apa?

Pikiranku terus berputar bertanya-tanya sebenarnya apa yang tengah mereka lakukan. Kenapa posisinya seperti Bian yang mendapatkan tantangan itu?

"Febby itu anak baik, dia bukan kayak cewek-cewek lain yang bisa gua manfaatin buat menangin taruhan!"

Deg! Seketika napasku berhenti ketika dengan jelas kudengar Bian menyebut namaku, dengan amat jelas jika seseorang yang tengah menjadi bahan taruhan mereka adalah aku.

"Dia cuman satu dari segelintir siswi SMA 79 yang sama aja sama yang lainnya."

Tidak. Tidak. Aku tidak bisa meneruskan mendengar percakapan mereka. Tanpa sadar ice cream stroberi yang sudah setengah meleleh di tanganku jatuh ke lantai. Ini sangat menyakitkan. Kuhapus dengan kasar air mata yang dengan lancang keluar dari tempatnya. Tidak. Aku tidak boleh menangisi hal ini.

Detik berikutnya kulangkahkan kakiku menjauh dari tempat di mana seharusnya tidak aku singgahi. Langkahku semakin kencang bahkan aku berlari menuju gerbang sekolah.

Bresss... air hujan yang sedari tadi ingin menumpahkan isinya pun akhirnya jatuh juga. Aku tidak peduli, benar-benar tidak peduli dengan hujan yang terus membasahi tubuh kecilku yang terus menerobosnya. Biarlah, biarkan hujan yang menyamarkan air mataku saat ini.

Napasku tersenggal ketika entah sudah berapa jauh aku berlari, tubuhku terhuyung ambruk di aspal. Aku ingin menangis saja, aku ingin menangis karena diriku yang dengan mudah menerima orang asing masuk ke dalam kehidupanku, ke dalam hatiku.

Terima kasih Bian, kamu sudah membuatku mencintai dan membenci ice cream stroberi di waktu yang bersamaan. Kamu sudah berhasil membuatku mencintai dan membenci dirimu di waktu yang sama pula. Kamu memenangkan pertaruhan itu.


"Anjir, apaan ini?! Bayi banget makan ice cream belepotan!" Umpat laki-laki berambut gondrong.

Ice cream? Stroberi?, pandangan Bian menyapu sekeliling.
.
.
.

END

Comments

Popular posts from this blog

[CERBUNG] SOAL RINDU Part 1 || COKELAT PANAS

SOAL RINDU
Oleh: Cokelat Panas

.
-Cerita ini terinspirasi dari lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu-
.
Hai, aku Karamel dan ini kisahku..

“Aku kesal dengan jarak yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa berbincang denganmu di Whatsapp
Aku kesal dengan waktu yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa menikmati tawamu.”

Malam semakin larut, suasana di dalam bus sudah sepi sejak jam tujuh malam. Aku terbangun dan melihat sekeliling, udara dingin mulai masuk ke dalam kulitku, kutarik selimut sampai menutupi badan. Terdengar musik dangdut koplo tanpa lirik dengan volume lirih, entahlah sejak sore musik yang diputar itu-itu saja.

Apa kabar kamu wahai pujaanku? Masihkah kamu mengingatku detik ini juga atau kamu sudah tidur terlelap dipelukan wanita pilihanmu saat ini?

Aku tersenyum getir mendengar ocehan hatiku. Kenapa aku ini, selalu mengingat-ingat masa kelam yang menyedihkan tapi jika dipikir-pikir lagi itu masa pedih yang kadang aku tertawakan, lucunya.

[TEENFICTION] SECRET ADMIRER Part 4 || COKELAT PANAS

.
.
.

Seiring berjalannya waktu, semua berubah, tidak ada keributan lagi di kelas 12Bahasa2. Tidak ada keusilan yang sengaja diciptakan, tidak ada lagi si troublemaker couple yang selalu membuat warna di kelas. Semuanya hilang dalam sekejap, kelas menjadi tenang, kaku, kikuk, dan canggung di antara keduanya.

Bagaimana tidak, sosok Rey dan Rin si Tom and Jerry 12Bahasa2 tidak ada lagi, mereka mendadak menjadi murid normal yang kalem, tidak pernah berteriak, tidak pernah saling kejar-kejaran di dalam kelas, boro-boro tegur sapa bahkan menatap saja tidak.

Bukan, bukan ini yang diinginkan Rin, ia tidak ingin tatapan dingin Rey setiap hari, ia tidak sanggup jika setiap hari harus merasakan canggung ketika berpapasan dengan Rey. Rey berubah, Rey berbeda dan Rin tidak suka dengan sikap Rey yang seperti itu padanya.

Lagi-lagi pagi ini suasana canggung itu datang lagi. Rin dan Ranty baru saja keluar dari perpustakaan dan akan kembali ke kelas karena bel masuk akan berbunyi. Sayangnya Rin haru…

[CERPEN] LUKA || COKELAT PANAS

LUKA
Oleh: Cokelat Panas

Tentang hati, selalu ada cara ia mempermainkan pemiliknya. Tentang hati, banyak cara ia memberi luka dan luka, walau begitu aku selalu menghargai apa yang hati lakukan, apa yang hati rasakan walaupun harus kembali membuat luka dan menambalnya, begitu seterusnya.

Aku kembali termenung ketika netra ini menangkap sosok laki-laki tampan berjalan mendekatiku, ia tersenyum, senyum yang entah sudah berapa ribu kali kulihat, senyum yang selalu membuat bibir dan hatiku tersenyum amat lebar. "Alvin." Suaraku lirih, ia kembali tersenyum dan melebarkan langkahnya supaya segera sampai pada posisiku berdiri.

"Lama nggak?" Tanyanya sesampainya di depanku.

Aku tak segera menjawab, mataku memicing dengan senyum miring. "Kalo lama berarti traktir ice cream dong ya?!" Ucapku bersemangat.

"Enak aja! Kemaren udah Din, jangan suka malak orang deh!" Jawab Alvin sambil mengacak rambut sebahuku sampai berantakan.

Aku hanya meringis sambil berus…